Translate

Cute Rocking Baby Monkey

Thursday, May 17, 2012

dark goddess

  


Membunuh bukan hal yang menyenangkan, kecuali bagi seorang psiko. Billi SanGreal tidak pernah memilih untuk menjadi seorang templar yang jalannya selalu bersimpangan dengan membunuh. Hidup yang menuntunnya untuk bertindak sebagai pelindung umat manusia dengan pedang yang siap membabat Yang Tak Kudus.

Ancaman atas ketentraman umat manusia tak pernah usai, kali ini bumi terancam dengan ada penyihir kuno, Baba Yaga, yang ingin mempercepat datangnya kiamat. Namun, Baba Yaga membutuhkan Vasilisa untuk dapat mewujudkannya karena kekuatannya yang dapat mengendalikan alam. Sosok kunci Vasilisa, sang anak musim semilah yang kemudian menjadi rebutan antara ordo templar dan loony, manusia serigala yang menjadi pengikut Baba Yaga.

Dilema memenuhi benak Billi jika gagal menghabisi Baba Yaga, dia harus membunuh sang Vasilisa yang terlanjur melunakkan hatinya. Keputusan pun semakin sulit ketika Billi terinfeksi darah manusia serigala yang otomatis membuatnya harus tunduk pada Baba Yaga. Alhasil, petarungan tidak hanya terjadi di luar tapi juga di dalam diri Billy.

Membaca awal cerita terdapat beberapa hal yang agak tidak sinkron dengan serial pertama; Devil’s Kiss. Semisal tentang Kay yang digambarkan Elaine sebagai sosok yang bisa melihat masa depan [h.47]. Padahal jika ditelusuri kembali, Kay tidak bisa melihat masa depan, kecuali saat pertama kali bertemu dengan ordo templar. Sebenarnya hal tersebut tidak berpengaruh pada cerita, tapi tetap saja rasanya agak janggal.

Terlepas dari ketidak-sinkronan, saya berani berkata petualangan Billi SanGreal kali ini lebih seru dibandingkan ketika berhadapan dengan Malaikat Agung, Michael. Pertarungan hampir tidak pernah surut, perasaan waswas dan merasa diintai terus menghantui sejak awal cerita, bahkan saat cerita berbaur dengan romantisme, tidak membuat kisah menjadi lembek.

Kekuatan alam akan selalu menang

Satu lagi yang membuat buku ini menjadi spesial, adalah isu lingkungan yang diusung hingga membuat Dark Goddess bukan sekadar cerita fantasi ‘kosong’. Bobroknya bumilah yang menjadi latar belakang keputusan Baba Yaga untuk mempercepat kiamat. Sehingga agak sulit untuk tidak memaklumi [bahkan mendukung] alasan sang antagonis, ketika secara realita alam memang mulai memasuki kondisi sekarat.

Saya sedikit menganjurkan kalian membaca Devil’s Kiss sebelum Dark Goddess supaya keningmu tak perlu berkerut saat Billi karena mengingat masa silam. Namun, jika tidak pun tak apa karena jalan ceritanya sendiri tidak terlalu dipengaruhi oleh serial pertamanya. Oiya, jempol untuk desain sampul Dark Goddess, I Like it!

Wednesday, May 16, 2012

devils kiss

   
Kau benar, Billi. Jumlah kita sangat sedikit tapi kita tetap bisa menjaga agar kegelapan tidak berkuasa. Mengapa? Karena Kita bengis. Kita memberikan mimpi buruk pada para monster. … Rasa takut adalah senjata yang sangat ampuh. [h.110]

Sejarah menyebutkan bahwa Ksatria Templar adalah ordo tentara salib yang bertugas untuk melindungi peziarah Kristen dari Eropa ke Yerusalem. Penyebab kejatuhan ordo ini sendiri menyimpan banyak tanda tanya, tapi yang jelas sejak Jacques de Molay, Sang Grand Master Templar, dibakar hidup-hidup, ordo templar dianggap sudah resmi hilang. Namun, walaupun sudah dibubarkan, beberapa templar berhasil lolos dan menghilangkan jejak, yang kemudian menyusun kekuatan dan menyusup ke dalam gilda (serikat sekerja) terpenting di Kepulauan Inggris.*

Devil’s Kiss mengangkat sejarah templar sebagai latar kisah heroik Billi, satu-satunya perempuan yang menjadi seorang templar. Arthur, ayah Billi sekaligus Grand Master Templar, adalah sosok yang berperan besar membentuk Billi menjadi petarung. Kondisi tersebut tidak serta merta membuat Billi bangga, alih-alih merasa tersiksa dan mulai memimpikan kehidupan normal menjelma dalam kesehariannya. Kehadiran Michael membuat Billi memiliki harapan mewujudkan mimpinya, tapi sayang keinginannya tidak semudah bayangan. Petaka dan kematian datang silih berganti, misteri pun mulai terungkap, hingga orang yang dicintai pun harus direlakan.

Dahulu peran ksatria templar adalah sebagai pelindung peziarah, hingga berganti abad, tugas mereka pun mulai mengalami pergeseran. Masih tetap sebagai pelindung, tetapi berhubungan dengan aksi pengusiran roh-roh yang bergentayangan di bumi. Membaca aksi Billi di awal cerita tidak membuat kepalaku membayangkan seorang ksatria templar. Doa pengusiran roh dan air suci mengingatkan saya pada aksi John Constantine dalam film fiction supernatural, Constantine, yang diperankan dengan brilian oleh Keanu Reeves. Untungnya, semakin ke belakang aura patriotik khas pejuang, terasa semakin kental sehingga tidak membuat imajinasiku melenceng.

Walaupun tema cerita tentang kelompok petarung, aksi ‘hajar-menghajar’ tidak terlalu banyak. Penulis lebih sering menyoroti tentang kemarahan Billi pada ketidak-normalan kehidupannya, ketidak-adilan Arthur sebagai ayahnya, dan keinginannya untuk memberontak dari ordo templar. Sedikit kecewa sih, tapi bersyukur karena penulis mampu mengolah emosi tokoh lewat kata-kata dan sukses membuat saya ikut merasakan momen sedih, depresi, dan pikiran kalut Billi. Kematian yang hampir menyelimuti seluruh kisah perjalanan Ksatria Templar juga berhasil membuat saya deg-degan ketika membacanya di malam hari dalam kondisi rumah yang sepi.

… tidak ada kematian yang bersifat agung dan terhormat. Kematian itu brutal dan membuatmu merasa sepi dan takut [h. 214]


Betewe, sedikit misteri yang memenuhi benak saya, kenapa tulah kesepuluh mengenai anak sulung? Kenapa anak sulung? Kenapa? *pertanyaan yang muncul dari kepala pe-review yang juga anak sulung*

demon glss


Sophie Mercer pikir dirinya penyihir. Itulah alasan utamanya mengapa ia dikirim ke Hex Hall, sekolah lembaga pemasyarakatan untuk Prodigium (alias penyihir, shapeshifter, dan peri) nakal. Tapi kemudian dia menemukan rahasia keluarga, dan kenyataan bahwa cowok yang ditaksirnya, Archer Cross, ternyata seorang agen Mata, kelompok yang bertekad untuk menlenyapkan Prodigium dari muka bumi. Ternyata, Sophie adalah demon, salah satu dari hanya dua demon di dunia—yang satunya adalah ayahnya. Yang lebih buruk lagi, ia punya kekuatan yang mengancam nyawa orang-orang yang dicintainya. Yang menjadi alasan Sophie memutuskan untuk pergi ke London untuk menjalani Pemunahan, prosedur berbahaya yang bisa menghilangkan kekuatannya untuk selama-lamanya–atau menewaskannya. Tapi begitu Sophie tiba, dia dikejutkan oleh penemuan baru. Teman serumahnya? Mereka juga demon. Artinya, seseorang sedang membangkitkan demon secara diam-diam, dengan rencana mengerikan untuk menggunakan kekuatan mereka, dan mungkin untuk selama-lamanya. Sementara itu, Mata bertekad untuk memburu Sophie, dan mereka menggunakan Archer untuk melakukannya. Bukannya Sophie masih punya perasaan terhadap pemuda itu. Benarkah? *** “Semester lalu sungguh berat,” kataku kepada Dad. “Berat?” Dad menirukan, sambil mengambil berkasku. “Sebentar. Pada hari pertamamu di Hecate, kau diserang werewolf. Kau menghina seorang guru, yang berujung pada tugas ruang bawah tanah dengan Archer Cross. Menurut catatan, kalian berdua jadi ‘dekat’. Rupanya cukup dekat sehingga kau bisa melihat tanda L’Occhio di Dio di dadanya.” Aku merona mendengarnya, dan merasakan lengan Mom yang merangkulku mengencang. Selama enam bulan ini, aku menceritakan banyak kisah tentang Archer, tapi tidak semuanya. Khususnya tidak menceritakan bagian aku-yang-bermesraan-di-ruang-bawah-tanah-dengan-warlock-yang-siap-membunuh-yang-bekerja-untuk-Mata. Pujian-pujian untuk HEX HALL “Debut Hawkins yang menghibur disesaki oleh misteri dan makhluk-makhluk fantasi”—Publishsers Weekly “Veronica Marsh bertemu dengan Percy Jackson dan Olympian”—Kirkus Reviews “Intinya: Sophie Mercer sudah menyihirku!”—Becca Fitzpatrick, penulis buku laris Hush, Hush dan Crescendo *** Rachel Hawkins adalah guru bahasa Inggris SMA sebelum menjadi penulis penuh waktu. Dia dan keluarganya tinggal di Alabama, dan saat ini sedang mengerjakan buku selanjutnya dari seri Hex Hall. Sepanjang pengetahuannya, Rachel bukanlah penyihir, walaupun beberapa mantan muridnya mungkin tidak sependapat…. Kunjungi Rachel dalam jaringan www.rachel-hawkins.com

Hex Hall by rachel hawkins

Memiliki kekuatan mengubah benda menjadi seperti yang kauinginkan atau memunculkan benda yang kaubutuhkan tanpa harus mencari, pastinya sesuatu banget? Namun, bagaimana jika ternyata kekuatanmu lebih dari sekadar hal-hal sepele tersebut, bagaimana dengan kekuatan mengubah cuaca? Atau melenyapkan manusia yang kau benci? Terlihat gak-sesuatu-banget lagi deh. Apalagi akibat memiliki kekuatan itu, kau menjadi target-bunuh nomor wahid yang sangat diincar oleh para pemburu penyihir. Okey, pastinya kau akan berpikir ulang untuk memiliki kekuatan tersebut. Kekuatan itulah yang menimpa Sophie Mercer, dan sayangnya, si penyihir muda ini tidak dapat begitu saja menghilangkan kekuatan sihir yang memang diwariskan secara turun-temurun. Kejadian memalukan akibat keteledorannya menggunakan Mantra Cinta menggiringnya ke Hecate Hall, sebuah rumah pelayanan masyarakat yang menampung anak-anak berkekuatan khusus hingga usia mereka 18 tahun. Awalnya kisah Sophie Mercer terkesan gak seru-seru amat, karena ceritanya seperti tema kebanyakan yang kali ini tentang cewek baru yang naksir cowok terganteng di sekolah, sayangnya udah punya pacar cewek cuaaantik tapi jutek. Tapi, kejadian Chaston terkapar di kamar mandi dengan dua lubang berdarah di leher mulai membuat menambah minat saya untuk melototin buku ini. Mulailah segala misteri dan kejutan semakin menarik sekaligus membuat penasaran di sepanjang cerita hingga halaman terakhir. Kejutan tentang ayah Sophie, sosok di balik hantu yang terus mengikutinya, penyusup yang tak disangka-sangka, semuanya terjalin dengan gaya penceritaan yang menyelipkan rasa penasaran. Seperti saya katakan sebelumnya, cerita sempat terkesan membosankan. Untungnya, semua tertutupi kelihaian Rachel, penulis yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris ini, dalam meramu dialog sarkasme yang kocak dan menyelipkan kejutan-kejutan kecil di awal cerita mampu membuat saya betah berlama-lama dengan Sophie. Saya acungkan jempol juga untuk penerjemahnya yang mampu membahasa-Indonesiakan *eaaa* Hex Hall tanpa kehilangan pesonanya. Dan satu kalimat yang membuat saya tertawa dan mengacungkan empat jempol atas terjemahan, “Kutu kupret makan karet” [h.296] Sekelebat saya jadi teringat Billi SanGreal Series [ The Devil’s Kiss & Dark Godness ] ketika membaca Hex Hall. Billi SanGreal adalah Sang Templar yang bertugas menyingkirkan roh atau makhluk yang berkuatan ganjil, sedangkan Sophie, sosok penyihir yang harus belajar mempertahankan diri dari sosok seperti Billi. Seperti membaca dua sisi kehidupan meskipun alur cerita sangat jauh berbeda dengan kesamaan tokohnya adalah gadis yang berada pada posisi yang tidak diinginkan tapi tak bisa melakukan apapun. Well, yang pasti saya masih penasaran dengan pertemuan Sophie dengan sang Ayah, bagaimana jadinya? Apa yang akan terjadi? Ditunggu kelanjutan dari petualangan Sophie.