Translate

Cute Rocking Baby Monkey

Monday, July 9, 2012


Mockingjay Cover

(Catatan: Review ini sebaiknya dibaca mereka yang sudah menyelesaikan membaca semua novel The Hunger Games sebab review ini bakalan banyak mengandung spoiler)


Hanya makan dua hari bagiku untuk melahap seluruh novel Mockingjay. Perjalanan Katniss Everdeen, gadis yang tersulut api, yang mengobarkan api pemberontakan di akhir Catching Fire membuatku penasaran. Suzanne Collins menutup novel tersebut dengan begitu banyak plot yang menggantung. Bagaimana nasib Peeta yang tertangkap oleh Capitol? Apa yang menanti Katniss setelah kampung halamannya, District 12, diluluh-lantakkan oleh Capitol? Bisakah ia menjadi simbol pemberontakan, sang Mockingjay? Dengan pertanyaan-pertanyaan itu di benakku saya mengharapkan sebuah konklusi yang epik dari trilogi ini.
Saya tidak mendapatkannya. Tunggu, let me rephrase that. Lebih tepat berkata bahwa Mockingjay tidak sesuai dengan harapanku.

Saya menutup reviewku akan Catching Fire dengan penuh semangat menyatakan akan turut berada di samping Katniss dan kawan-kawannya merubuhkan kekuasaan President Snow, diktator Panem. Tapi membaca halaman demi halaman di Mockingjay menyurutkan keinginan itu. Suzanne Collins bukan menggarap sebuah kisah heroik, ia menulis tentang sebuah tragedi perang di mana tak ada pihak yang menang tapi hanya pihak yang terluka.

Novel ini dibuka dengan Katniss merenung di atas apa yang dulunya merupakan District 12. Dia, keluarganya, dan beberapa survivor dari District 12 yang kabur sekarang ditampung di District 13; yang kini menyiapkan diri untuk merebut aliansi satu demi satu distrik. Tujuan mereka adalah memutus semua bahan persediaan dari Capitol dan lantas menjatuhkan ibukota. Katniss adalah syarat penting untuk ini. Ia secara terpaksa dinobatkan menjadi si Mockingjay, simbol dari harapan dan penyatu pemberontak.

Bagiku buku ini masih bagus tetapi tidak seapik dua pendahulunya (problem klasik dari sekuel kedua). Beberapa hal yang terasa menganggu di sini adalah posisi Katniss. Katniss adalah karakter utama di sini dan dari matanya kita melihat dunia Panem. Dalam dua buku sebelumnya Katniss selalu berada di tengah pergolakan baik dalam permainan Hunger Games maupun tanpa sengaja menyulut api pemberontakan. Tapi di sini Katniss lebih sering terpinggirkan. Ini sebenarnya masuk akal sih karena posisi Katniss yang penting tidak memungkinkan dia maju di garis depan perang bukan? Akan tetapi ini juga membuat pembaca mau tak mau terasa seperti dipinggirkan. Seakan saya mendengar bahwa di sekeliling saya ada perang tetapi saya tak pernah frontal maju di tengah kengerian perang itu sendiri. Ya ada beberapa momen di mana Katniss maju di tengah perang tetapi adegan-adegan itu terlalu sedikit atau sudah terlalu terlambat (seperempat terakhir buku menjelang klimaks benar-benar penuh ketegangan).

Satu hal lagi yang saya benci di Mockingjay adalah sifat Katniss yang kembali ke dirinya dalam The Hunger Games (buku pertama). Saya mengerti kenapa dia bisa seperti itu. Hampir sepanjang setengah buku pertama Peeta tertangkap di tangan musuh dan Katniss tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Akan tetapi ketika hampir mencapai 3/4 buku saya agak bosan dan jujur saja geram dengan sifatnya. Ayolah Katniss. Kamu seharusnya bisa bangkit. Bukankah kamu seharusnya menjadi sang Mockingjay? Sang harapan? Saya tahu ada dua kubu yang mempertentangkan sifat Katniss. Yang satu bakalan membelanya mengatakan kalau sekalipun Katniss adalah karakter utama di sini ia bukanlah sang protagonis. Sebaliknya ada juga yang mengharapkan the girl on fire bisa akhirnya tumbuh menjadi seorang woman yang dewasa.

Akan tetapi di luar dua kelemahan di atas sebenarnya saya tak punya komplain berarti lagi bagi Mockingjay. Salah satu kelemahan utama di Catching Fire: betapa sempurnanya Gale dan Peeta diperbaiki oleh Suzanne Collins. Keduanya kini lebih mirip manusia ketimbang santo orang suci. Mereka bisa merasa marah, geram, bahkan pada saat tertentu keji. Terutama untuk karakter Peeta karena penyesahan yang ia terima mengubah karakternya secara fundamental. Peeta yang kamu baca di sini bukan lagi Peeta dari dua buku pertama yang manis dan penuh perhatian pada Katniss. Gale pun begitu, kita sempat melihat sisi gelapnya di Catching Fire tapi baru di sinilah ia menunjukkan wajah aslinya dalam perang dan sikapnya membangkang Capitol.
Tidak hanya keduanya yang memegang porsi peranan di sini tetapi juga banyak karakter-karakter lainnya. Seperti yang saya katakan tadi, ini adalah perang. Dan dalam perang jatuh banyak korban. Banyak sekali. Banyak banyak sekali. Tidak seorang pun karakter yang benar-benar aman di Mockingjay. Beberapa kematiannya disebutkan secara sambil lalu, beberapa lagi menimbulkan efek penting dalam cerita, tetapi semuanya memedihkan di hati. Saya sempat ternganga tak percaya membaca kematian dari (SPOILER ALERT!!!) Prim. Reaksi saya setelah membaca bagian itu? Mengulang lagi, memastikan saya tidak keliru. Dan ketika yang saya baca memang benar. Saya menutup Ebook-ku sekilas untuk mengutuki Collins.

Pacing cerita pun diatur rapi. Kendati Katniss dibangku-cadangkan selama perang kita berkesempatan melihat dia berinteraksi dengan District 13 dan belajar lebih mendalam mengenai daerah yang konon sudah hilang itu. Dan ironisnya setelah melihat dan membandingkan sebenarnya District 13 pun seotoriter Capitol. Ini menimbulkan pertanyaan dalam diriku selama membaca novel. Kalaupun Capitol berhasil dijengkangkan, apalah artinya bila diktator yang lain mengambil tampuk kekuasaan? Itu jugakah yang terjadi di negara-negara Afrika sana sehingga kedamaian seakan tak pernah menyentuh wilayah itu?

So my verdict is… Sedikit peringatan bagi kalian yang belum selesai membaca: jangan harapkan sebuah happy ending. Ending Mockingjay mungkin tidak sedih, lebih cenderung ke bahagia mungkin… tapi ada banyak sekali nuansa kesedihan yang tak tertutupi melingkupinya. Dan Katniss, Peeta, Gale, serta semua karakter-karakter yang kita kenal? Perang mengubah mereka menjadi sisa dari apa yang kita kenal dari dua buku sebelumnya. Mockingjay bukan sebuah kisah heroik atau kisah cinta (yang hampir-hampir tidak digubris). Ini sebuah tragedi brutal yang patut direnungkan sebelum terjadi di dunia nyata.
(Note: Walaupun ditargetkan untuk pembaca remaja saat merilis The Hunger Games, saya tak merasa novel ini pantas dibaca remaja di bawah 17 tahun. Horror perang di dalamnya terlalu intens)

catching fire



Aksi buah berry yang dilakukan Katniss jelang akhir The Hunger Games ternyata berdampak sangat fatal bagi Capitol. Upaya memberontak keputusan panitia Hunger Games tersebut membangkitkan semangat distrik-distrik untuk melawan pemerintahan Capitol. Tindakan yang sebenarnya tidak disengaja malah menjadi titik balik perjuangan pemberontakan atas pemerintahan yang diktator. Semangat memberontak yang semakin berkobar ini membuat Presiden Capitol, Snow, menjadi gelisah.

Gejolak pemberontakan bertepatan dengan peringatan Hunger Games ke 75 yang disebut Quarter Quell ketiga, yaitu game peringatan seperti HG tapi dilakukan setiap 25 tahun sekali. Tak disangka Quarter Quell yang ketiga ini memberikan kejutan yang mengerikan bagi Katniss, dia harus kembali bertarung ke arena menghadapi para pemenang Hunger Games sebelum-sebelumnya.

Bisa dibilang plot Catching Fire sedikit tidak ‘high’ seperti The Hunger Games. Meski begitu petualangan Katniss tak kehilangan kejutan-kejutannya. Kejadian-kejadian yang sukses membuat saya terhenyak, antara lain siulan Mockingjay dan penembakan lelaki tua yang terjadi di Distrik 11 saat Katniss dan Peeta melakukan kunjungan, terbakarnya gaun pengantin Katniss di atas panggung Hunger Games *I Love Cinna!* dan saat semua peserta HG bergandengan tangan di depan rakyat Capitol.

Aksi laganya kurang, karena bagian awal lebih banyak berkisah tentang dilema cinta Katniss pada Gale dan Peeta, juga tentang upaya Katniss untuk lari dari Distrik 12. Hingga memasuki arena Hunger Games, cerita mulai mengambil alur cepat. Yang kusuka dari Catching Fire adalah gejolak semangat pemberontakan yang terjadi di distrik-distrik, mengingatkan pada sejarah-sejarah dunia ketika rakyat mulai bersatu untuk melawan dan menumbangkan pemerintahan yang tidak merakyat. Tak lupa percikan asmara segi-tiga, Peeta-Katniss-Gale, menjadi bumbu penyedap dalam cerita yang sarat dengan kemarahan, pertarungan, pemberontakan, ancaman, dan strategi demi memenangkan permainan.

Jempol juga saya acungkan untuk kalimat penutup Catching Fire yang sukses menimbulkan rasa penasaran yang besar. Tak salah jika penggemar The Hunger Games menunggu dengan tak sabar memburu kelanjutan The Hunger Games Series, Mockingjay.

the hunger games





“Dua puluh empat peserta. Hanya satu pemenang yang selamat”

 Di sebuah masa ketika Amerika Utara musnah, dan dibekasnya berdiri negara Panem dengan Capitol sebagai pusat kota yang dikelilingi oleh 12 distrik digelarlah sebuah permainan yang diberi nama The Hunger Games yang wajib diikuti oleh 24 anak-anak remaja belasan tahun dari seluruh distrik. Diberi nama Hunger Games karena peserta yang menang beserta distrik yang diwakilinya akan memperoleh hadiah berupa makanan yang melimpah dan jaminan hidup yang lebih baik. Hadiah yang sangat menarik bagi semua peserta dan distrik-distrik yang diwakilinya karena seantero negeri Panem selalu dalam kondisi kelaparan.

Permainan yang dilaksanakan setiap tahun dan disiarkan secara langsung oleh TV ke seluruh penjuru negeri sebagai sebuah Reality Show itu bukan hanya acara hiburan semata melainkan dirancang sebagai sebuah hukuman atas pemberontakan yang pernah dilakukan salah satu distrik di masa lampau. Untuk itu Capitol mengharuskan ke 12 distrik untuk mengirim seorang anak perempuan dan anak lelaki yang dipilih dengan cara diundi untuk bertarung satu sama lain. Dari ke 24 peserta hanya ada satu pemenang sehingga hanya ada dua pilihan membunuh atau dibunuh!.

Katniss Everden, 16 thn adalah gadis remaja yang tinggal di distrik 12 bersama ibu dan Prim, adiknya. Ayahnya telah meniggal karena kecelakaan di tambang batu bara. Semenjak kematian ayahnya Katniss menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Kegemarannya berburu di hutan membuatnya bisa menyediakan sedikit makanan ibu dan adiknya.

Saat pengundian Hunger Games ke 74, Prim terpilih untuk menjadi peserta Hunger Games, rasa sayangnya terhadap adiknya dan menyadari adiknya tak akan mampu bertahan sebagai pemenang, Katniss merelakan dirinya menggantikan posisi adiknya sebagai peserta. Undian berikutnya jatuh pada Peeta Mellark, anak seorang tukang roti. Tanpa diduga keikutsertaan Katniss dan Peeta sebagai wakil dari distrik 12 membuat Hunger Hames ke 74 menjadi begitu menarik dan tak terlupakan bagi seluruh penduduk negeri Panem.

Tema dan alur kisah dari novel The Hunger Games yang merupakan buku pertama dari sebuah trilogy (The Hunger Games, Cathcing Fire, Mockingjay) sebenarnya sederhana saja namun yang membuatnya menarik adalah bagaimana Suzanne Collins meramu kisah action, petualangan, ketegangan permainan Hunger Games plus drama kehidupan dan romansa Katniss Everden dengan Peeta Mellark . Romansa yang mau tak mau harus dipisahkan oleh kematian. Jika Katniss ingin menjadi pemenang maka ia harus berusaha membunuh ke 23 peserta lainnya termasuk Peeta sebelum ia dibunuh oleh peserta lainnya. Bagaimana jika nanti tinggal Katniss dan Peeta yang bertahan? Haruskah mereka saling membunuh?

Selain menyajikan sisi romansanya Katniss dan Peeta novel ini juga menungkap sisi-sisi kemanusiaan, nilai-nilai persahabatan, dan pengorbanan bagi seorang Katniss. Ketika peserta-peserta lain memiliki nafsu untuk membunuh karena dibutakan oleh keinginan untuk memenangkan pertandingan, Katniss tetap berpegang pada hati nuraninya untuk tidak membunuh jika dirasa tidak perlu.

Petualangan Katniss dan Peeta untuk berjuang memenangkan permainan ini terkisahkan dengan sangat menarik, Suzanne Collins menyuguhkan detail-detail menarik bagaimana The Hunger Games berjalan, mulai dari saat pengundian peserta, masa karantina, penjurian, persiapan peserta, pertarungan antar peserta, hingga selesainya permainan. Di sini digambarkan bagaimana para juri memiliki kekuasaan yang penuh dalam mengendalikan permainan.

Karena arena permainan berupa hutan liar yang luas maka ada kemungkinan peserta Hunger Games tercerai berai sehingga tidak terjadi kontak fisik antar peserta sehingga alur permainan menjadi lambat dan penonton TV menjadi bosan. Karenanya berkat kecangihan teknologi di masa itu juri mampu merekayasa kondisi arena permainan, mereka sanggup menciptakan hujan, badai, kebakaran hutan, atau apapun juga yang menggiring peserta Hunger Games untuk saling bertemu dan saling menyerang. Tidak hanya itu saja, juri juga menciptakan tanaman, binatang-binatang rekayasa, dan mutan yang menjadi ancaman bagi tiap peserta. Bagi penyelanggara Hunger Games semakin banyak terjadi pertumpahan darah maka semakin seru permainan itu dan penonton akan semakin terhibur.

Singkat kata, novel ini memang memukau sebagai besar pembacanya, kemahiran penulis untuk menjalin kisahnya yang menarik membuat pembaca seolah berada dalam arena pertandingan. Konsep Reality Show yang akhir-akhir ini begitu sering kita lihat di TV membuat imaji kita dengan mudah menangkap suasana yang dideskripsikan dalam novel ini. Jantung kita dibuat terus berdebar-debar dari halaman ke halaman, alur kisahnya tak terduga sehingga membuat kita penasaran dan ingin segera mengetahui bagaimana akhir kisah dari novel ini.

Oleh beberapa kalangan tema yang diangkat dalam novel ini dinilai berhasil memotret wajah budaya Amerika yang sedang gandrung akan tayangan Reality Show yang menjadikan seorang yang bukan siapa-siapa menjadi populer dan menganggap berita kekerasan perang dalam tayangan berita sebagai salah satu hiburan yang bisa mereka peroleh dari layar TV.

Di sisi lain, novel ini juga banyak dikritik karena terlalu kelam dan menghadirkan kekejian lewat adu fisik para peserta Hunger games sehingga novel ini tampak terlalu sadis dan keji, ditambah lagi dengan kisahnya bahwa pembunuhan demi pembunuhan dalam novel ini dilakukan oleh para remaja yang tampak haus akan darah dan kemenangan.

Selain itu banyak juga pembaca yang menilai bahwa ide kisah novel ini tidak orisinal karena kisahnya mirip dengan film Jepang Battle Royale yang juga mengangkat sebuah reality show berdarah dimana para pesertanya harus saling membunuh untuk meraih kemenangan.

Namun terlepas dari itu Kehadiran novel ini memberi warna baru bagi genre novel remaja yang sebelumnya diwarnai oleh dunia sihir dan vampir romantis. Di Amerika novel ini menjadi best seller mengalahkan serial Twilight. Bahkan kini seiring dengan beredarnya trailer resmi film The Hunger Games yang filmnya baru akan diputar pada Maret 2012 nanti novel ini menjadi semakin populer dan diperkirakan akan menjadi budaya pop baru di kalangan remaja Amerika dan dunia seperti serial Harry Potter dan The Twilight.

Yang pasti Goodreads, sebuah jejaring sosial bagi para pecinta buku dunia, memberikan rating yang sangat tinggi untuk The Hunger Games. Hingga review ini dibuat 54 ribu Goodreaders telah mereview novel ini dengan rata-rata memberi memberi 4.54 bintang untuk The Hunger Games

Di Indonesia sendiri, ketika novel ini pertama kali terbit pada tahun 2009 yang lalu tidak tidak terlalu mendapat respon yang luar biasa, namun kini lambat laun setelah dikabarkan akan difilmkan barulah pembaca kisah fantasi remaja Indonesia mulai melirik novel ini. Bahkan kini beberapa penggemar The Hunger Games di Indonesia membuat akun twitter dan website khusus bagi para pecinta The Hunger Game Trilogy yang berisi update terbaru seputar novel dan filmnya yang akan diputar 23 Maret 2012 nanti.

Sebuah budaya populer baru yang berasal dari novel best seller tampaknya akan muncul menggantikan Harry Potter dan Twilight, semoga ini tidak hanya eforia sesaat menjelang peluncuran filmnya saja melainkan sebuah momen untuk menularkan virus membaca melalui The Hunger Games Trilogy dan mengambil makna positif dalam novel yang begitu memikat in