Translate

Cute Rocking Baby Monkey

Saturday, September 22, 2012

english speech



Assalamualaikum wr.wb

Firstly, I would like to say thank you for the teacher and also my beloved friends.  who given me opportunity to deliver this English speech entitled “how to become entrepreneurship”

in times of economic crisis that has engulfed our beloved country, has caused a lot of unemployment. it is caused because of the many affected workers termination in various sectors of the economy and the difficulty of finding a job. difficulty of finding a job and the knowledge of the broad scope of entrepreneurship has led some people to stop looking for a job and become an entrepreneur.
 
          entrepreneurial behavior is dynamic, risk-taking, reactive and growing. and entrepreneurs are people who constantly pursue opportunities in a problem or a threat.

          there are 6 major characteristics of an entrepreneur, the attitudes and behaviors of discipline, commitment, honest, creative and innovative, independent, realistic.

          to end this speech, I try to use imagery that was written by a well-known management trainer, the parable of time and money: first, someone who did not have the time but have the money, is a foolish businessman, second, someone who puya time but not have money, are unemployed, a third, a man who had no time and no money, are workers, four, someone who had the time also had money, was a successful entrepreneur

Which would you choose, I'm sure everything will select the fourth, but remember that things are not easy to achieve if you do not have something that has a future attempt, to start it off, find the first opportunity, a creative innovation. I apologize if there are errors, and thank you for your attention.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Monday, September 17, 2012

just absence

its been two month since my last post. actually, gw baru aja menjejaki rasanya rok abu abu. jadi, gw sedang mengalami pancaroba dari biru ke abu abu. sebenernya gw lagi sibuk dengan kegiatan sekolah baru gw, dan berhubung hari ini kosong jadi gw coba isi absence dulu.

ada banyak alasan kenapa gw jadi jarang nge-post. di antaranya, gw lagi super duper woper sibuk jadi gak sempet ngubek-ngubek toko buku (and i have some financial problem). ngomong-ngomong soal toko buku, gw jadi inget sama novel spell bound, lanjutannya hex hall (check my other post) itu novel lama banget terbitnya gw sampe geregetan.

btw, this post just for absence so i didn't plan to have a long post (beside i really tired). so, i hope can have some spread time and write another review an awesome book. i swear i will post some review this week.

Monday, July 9, 2012


Mockingjay Cover

(Catatan: Review ini sebaiknya dibaca mereka yang sudah menyelesaikan membaca semua novel The Hunger Games sebab review ini bakalan banyak mengandung spoiler)


Hanya makan dua hari bagiku untuk melahap seluruh novel Mockingjay. Perjalanan Katniss Everdeen, gadis yang tersulut api, yang mengobarkan api pemberontakan di akhir Catching Fire membuatku penasaran. Suzanne Collins menutup novel tersebut dengan begitu banyak plot yang menggantung. Bagaimana nasib Peeta yang tertangkap oleh Capitol? Apa yang menanti Katniss setelah kampung halamannya, District 12, diluluh-lantakkan oleh Capitol? Bisakah ia menjadi simbol pemberontakan, sang Mockingjay? Dengan pertanyaan-pertanyaan itu di benakku saya mengharapkan sebuah konklusi yang epik dari trilogi ini.
Saya tidak mendapatkannya. Tunggu, let me rephrase that. Lebih tepat berkata bahwa Mockingjay tidak sesuai dengan harapanku.

Saya menutup reviewku akan Catching Fire dengan penuh semangat menyatakan akan turut berada di samping Katniss dan kawan-kawannya merubuhkan kekuasaan President Snow, diktator Panem. Tapi membaca halaman demi halaman di Mockingjay menyurutkan keinginan itu. Suzanne Collins bukan menggarap sebuah kisah heroik, ia menulis tentang sebuah tragedi perang di mana tak ada pihak yang menang tapi hanya pihak yang terluka.

Novel ini dibuka dengan Katniss merenung di atas apa yang dulunya merupakan District 12. Dia, keluarganya, dan beberapa survivor dari District 12 yang kabur sekarang ditampung di District 13; yang kini menyiapkan diri untuk merebut aliansi satu demi satu distrik. Tujuan mereka adalah memutus semua bahan persediaan dari Capitol dan lantas menjatuhkan ibukota. Katniss adalah syarat penting untuk ini. Ia secara terpaksa dinobatkan menjadi si Mockingjay, simbol dari harapan dan penyatu pemberontak.

Bagiku buku ini masih bagus tetapi tidak seapik dua pendahulunya (problem klasik dari sekuel kedua). Beberapa hal yang terasa menganggu di sini adalah posisi Katniss. Katniss adalah karakter utama di sini dan dari matanya kita melihat dunia Panem. Dalam dua buku sebelumnya Katniss selalu berada di tengah pergolakan baik dalam permainan Hunger Games maupun tanpa sengaja menyulut api pemberontakan. Tapi di sini Katniss lebih sering terpinggirkan. Ini sebenarnya masuk akal sih karena posisi Katniss yang penting tidak memungkinkan dia maju di garis depan perang bukan? Akan tetapi ini juga membuat pembaca mau tak mau terasa seperti dipinggirkan. Seakan saya mendengar bahwa di sekeliling saya ada perang tetapi saya tak pernah frontal maju di tengah kengerian perang itu sendiri. Ya ada beberapa momen di mana Katniss maju di tengah perang tetapi adegan-adegan itu terlalu sedikit atau sudah terlalu terlambat (seperempat terakhir buku menjelang klimaks benar-benar penuh ketegangan).

Satu hal lagi yang saya benci di Mockingjay adalah sifat Katniss yang kembali ke dirinya dalam The Hunger Games (buku pertama). Saya mengerti kenapa dia bisa seperti itu. Hampir sepanjang setengah buku pertama Peeta tertangkap di tangan musuh dan Katniss tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Akan tetapi ketika hampir mencapai 3/4 buku saya agak bosan dan jujur saja geram dengan sifatnya. Ayolah Katniss. Kamu seharusnya bisa bangkit. Bukankah kamu seharusnya menjadi sang Mockingjay? Sang harapan? Saya tahu ada dua kubu yang mempertentangkan sifat Katniss. Yang satu bakalan membelanya mengatakan kalau sekalipun Katniss adalah karakter utama di sini ia bukanlah sang protagonis. Sebaliknya ada juga yang mengharapkan the girl on fire bisa akhirnya tumbuh menjadi seorang woman yang dewasa.

Akan tetapi di luar dua kelemahan di atas sebenarnya saya tak punya komplain berarti lagi bagi Mockingjay. Salah satu kelemahan utama di Catching Fire: betapa sempurnanya Gale dan Peeta diperbaiki oleh Suzanne Collins. Keduanya kini lebih mirip manusia ketimbang santo orang suci. Mereka bisa merasa marah, geram, bahkan pada saat tertentu keji. Terutama untuk karakter Peeta karena penyesahan yang ia terima mengubah karakternya secara fundamental. Peeta yang kamu baca di sini bukan lagi Peeta dari dua buku pertama yang manis dan penuh perhatian pada Katniss. Gale pun begitu, kita sempat melihat sisi gelapnya di Catching Fire tapi baru di sinilah ia menunjukkan wajah aslinya dalam perang dan sikapnya membangkang Capitol.
Tidak hanya keduanya yang memegang porsi peranan di sini tetapi juga banyak karakter-karakter lainnya. Seperti yang saya katakan tadi, ini adalah perang. Dan dalam perang jatuh banyak korban. Banyak sekali. Banyak banyak sekali. Tidak seorang pun karakter yang benar-benar aman di Mockingjay. Beberapa kematiannya disebutkan secara sambil lalu, beberapa lagi menimbulkan efek penting dalam cerita, tetapi semuanya memedihkan di hati. Saya sempat ternganga tak percaya membaca kematian dari (SPOILER ALERT!!!) Prim. Reaksi saya setelah membaca bagian itu? Mengulang lagi, memastikan saya tidak keliru. Dan ketika yang saya baca memang benar. Saya menutup Ebook-ku sekilas untuk mengutuki Collins.

Pacing cerita pun diatur rapi. Kendati Katniss dibangku-cadangkan selama perang kita berkesempatan melihat dia berinteraksi dengan District 13 dan belajar lebih mendalam mengenai daerah yang konon sudah hilang itu. Dan ironisnya setelah melihat dan membandingkan sebenarnya District 13 pun seotoriter Capitol. Ini menimbulkan pertanyaan dalam diriku selama membaca novel. Kalaupun Capitol berhasil dijengkangkan, apalah artinya bila diktator yang lain mengambil tampuk kekuasaan? Itu jugakah yang terjadi di negara-negara Afrika sana sehingga kedamaian seakan tak pernah menyentuh wilayah itu?

So my verdict is… Sedikit peringatan bagi kalian yang belum selesai membaca: jangan harapkan sebuah happy ending. Ending Mockingjay mungkin tidak sedih, lebih cenderung ke bahagia mungkin… tapi ada banyak sekali nuansa kesedihan yang tak tertutupi melingkupinya. Dan Katniss, Peeta, Gale, serta semua karakter-karakter yang kita kenal? Perang mengubah mereka menjadi sisa dari apa yang kita kenal dari dua buku sebelumnya. Mockingjay bukan sebuah kisah heroik atau kisah cinta (yang hampir-hampir tidak digubris). Ini sebuah tragedi brutal yang patut direnungkan sebelum terjadi di dunia nyata.
(Note: Walaupun ditargetkan untuk pembaca remaja saat merilis The Hunger Games, saya tak merasa novel ini pantas dibaca remaja di bawah 17 tahun. Horror perang di dalamnya terlalu intens)

catching fire



Aksi buah berry yang dilakukan Katniss jelang akhir The Hunger Games ternyata berdampak sangat fatal bagi Capitol. Upaya memberontak keputusan panitia Hunger Games tersebut membangkitkan semangat distrik-distrik untuk melawan pemerintahan Capitol. Tindakan yang sebenarnya tidak disengaja malah menjadi titik balik perjuangan pemberontakan atas pemerintahan yang diktator. Semangat memberontak yang semakin berkobar ini membuat Presiden Capitol, Snow, menjadi gelisah.

Gejolak pemberontakan bertepatan dengan peringatan Hunger Games ke 75 yang disebut Quarter Quell ketiga, yaitu game peringatan seperti HG tapi dilakukan setiap 25 tahun sekali. Tak disangka Quarter Quell yang ketiga ini memberikan kejutan yang mengerikan bagi Katniss, dia harus kembali bertarung ke arena menghadapi para pemenang Hunger Games sebelum-sebelumnya.

Bisa dibilang plot Catching Fire sedikit tidak ‘high’ seperti The Hunger Games. Meski begitu petualangan Katniss tak kehilangan kejutan-kejutannya. Kejadian-kejadian yang sukses membuat saya terhenyak, antara lain siulan Mockingjay dan penembakan lelaki tua yang terjadi di Distrik 11 saat Katniss dan Peeta melakukan kunjungan, terbakarnya gaun pengantin Katniss di atas panggung Hunger Games *I Love Cinna!* dan saat semua peserta HG bergandengan tangan di depan rakyat Capitol.

Aksi laganya kurang, karena bagian awal lebih banyak berkisah tentang dilema cinta Katniss pada Gale dan Peeta, juga tentang upaya Katniss untuk lari dari Distrik 12. Hingga memasuki arena Hunger Games, cerita mulai mengambil alur cepat. Yang kusuka dari Catching Fire adalah gejolak semangat pemberontakan yang terjadi di distrik-distrik, mengingatkan pada sejarah-sejarah dunia ketika rakyat mulai bersatu untuk melawan dan menumbangkan pemerintahan yang tidak merakyat. Tak lupa percikan asmara segi-tiga, Peeta-Katniss-Gale, menjadi bumbu penyedap dalam cerita yang sarat dengan kemarahan, pertarungan, pemberontakan, ancaman, dan strategi demi memenangkan permainan.

Jempol juga saya acungkan untuk kalimat penutup Catching Fire yang sukses menimbulkan rasa penasaran yang besar. Tak salah jika penggemar The Hunger Games menunggu dengan tak sabar memburu kelanjutan The Hunger Games Series, Mockingjay.

the hunger games





“Dua puluh empat peserta. Hanya satu pemenang yang selamat”

 Di sebuah masa ketika Amerika Utara musnah, dan dibekasnya berdiri negara Panem dengan Capitol sebagai pusat kota yang dikelilingi oleh 12 distrik digelarlah sebuah permainan yang diberi nama The Hunger Games yang wajib diikuti oleh 24 anak-anak remaja belasan tahun dari seluruh distrik. Diberi nama Hunger Games karena peserta yang menang beserta distrik yang diwakilinya akan memperoleh hadiah berupa makanan yang melimpah dan jaminan hidup yang lebih baik. Hadiah yang sangat menarik bagi semua peserta dan distrik-distrik yang diwakilinya karena seantero negeri Panem selalu dalam kondisi kelaparan.

Permainan yang dilaksanakan setiap tahun dan disiarkan secara langsung oleh TV ke seluruh penjuru negeri sebagai sebuah Reality Show itu bukan hanya acara hiburan semata melainkan dirancang sebagai sebuah hukuman atas pemberontakan yang pernah dilakukan salah satu distrik di masa lampau. Untuk itu Capitol mengharuskan ke 12 distrik untuk mengirim seorang anak perempuan dan anak lelaki yang dipilih dengan cara diundi untuk bertarung satu sama lain. Dari ke 24 peserta hanya ada satu pemenang sehingga hanya ada dua pilihan membunuh atau dibunuh!.

Katniss Everden, 16 thn adalah gadis remaja yang tinggal di distrik 12 bersama ibu dan Prim, adiknya. Ayahnya telah meniggal karena kecelakaan di tambang batu bara. Semenjak kematian ayahnya Katniss menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Kegemarannya berburu di hutan membuatnya bisa menyediakan sedikit makanan ibu dan adiknya.

Saat pengundian Hunger Games ke 74, Prim terpilih untuk menjadi peserta Hunger Games, rasa sayangnya terhadap adiknya dan menyadari adiknya tak akan mampu bertahan sebagai pemenang, Katniss merelakan dirinya menggantikan posisi adiknya sebagai peserta. Undian berikutnya jatuh pada Peeta Mellark, anak seorang tukang roti. Tanpa diduga keikutsertaan Katniss dan Peeta sebagai wakil dari distrik 12 membuat Hunger Hames ke 74 menjadi begitu menarik dan tak terlupakan bagi seluruh penduduk negeri Panem.

Tema dan alur kisah dari novel The Hunger Games yang merupakan buku pertama dari sebuah trilogy (The Hunger Games, Cathcing Fire, Mockingjay) sebenarnya sederhana saja namun yang membuatnya menarik adalah bagaimana Suzanne Collins meramu kisah action, petualangan, ketegangan permainan Hunger Games plus drama kehidupan dan romansa Katniss Everden dengan Peeta Mellark . Romansa yang mau tak mau harus dipisahkan oleh kematian. Jika Katniss ingin menjadi pemenang maka ia harus berusaha membunuh ke 23 peserta lainnya termasuk Peeta sebelum ia dibunuh oleh peserta lainnya. Bagaimana jika nanti tinggal Katniss dan Peeta yang bertahan? Haruskah mereka saling membunuh?

Selain menyajikan sisi romansanya Katniss dan Peeta novel ini juga menungkap sisi-sisi kemanusiaan, nilai-nilai persahabatan, dan pengorbanan bagi seorang Katniss. Ketika peserta-peserta lain memiliki nafsu untuk membunuh karena dibutakan oleh keinginan untuk memenangkan pertandingan, Katniss tetap berpegang pada hati nuraninya untuk tidak membunuh jika dirasa tidak perlu.

Petualangan Katniss dan Peeta untuk berjuang memenangkan permainan ini terkisahkan dengan sangat menarik, Suzanne Collins menyuguhkan detail-detail menarik bagaimana The Hunger Games berjalan, mulai dari saat pengundian peserta, masa karantina, penjurian, persiapan peserta, pertarungan antar peserta, hingga selesainya permainan. Di sini digambarkan bagaimana para juri memiliki kekuasaan yang penuh dalam mengendalikan permainan.

Karena arena permainan berupa hutan liar yang luas maka ada kemungkinan peserta Hunger Games tercerai berai sehingga tidak terjadi kontak fisik antar peserta sehingga alur permainan menjadi lambat dan penonton TV menjadi bosan. Karenanya berkat kecangihan teknologi di masa itu juri mampu merekayasa kondisi arena permainan, mereka sanggup menciptakan hujan, badai, kebakaran hutan, atau apapun juga yang menggiring peserta Hunger Games untuk saling bertemu dan saling menyerang. Tidak hanya itu saja, juri juga menciptakan tanaman, binatang-binatang rekayasa, dan mutan yang menjadi ancaman bagi tiap peserta. Bagi penyelanggara Hunger Games semakin banyak terjadi pertumpahan darah maka semakin seru permainan itu dan penonton akan semakin terhibur.

Singkat kata, novel ini memang memukau sebagai besar pembacanya, kemahiran penulis untuk menjalin kisahnya yang menarik membuat pembaca seolah berada dalam arena pertandingan. Konsep Reality Show yang akhir-akhir ini begitu sering kita lihat di TV membuat imaji kita dengan mudah menangkap suasana yang dideskripsikan dalam novel ini. Jantung kita dibuat terus berdebar-debar dari halaman ke halaman, alur kisahnya tak terduga sehingga membuat kita penasaran dan ingin segera mengetahui bagaimana akhir kisah dari novel ini.

Oleh beberapa kalangan tema yang diangkat dalam novel ini dinilai berhasil memotret wajah budaya Amerika yang sedang gandrung akan tayangan Reality Show yang menjadikan seorang yang bukan siapa-siapa menjadi populer dan menganggap berita kekerasan perang dalam tayangan berita sebagai salah satu hiburan yang bisa mereka peroleh dari layar TV.

Di sisi lain, novel ini juga banyak dikritik karena terlalu kelam dan menghadirkan kekejian lewat adu fisik para peserta Hunger games sehingga novel ini tampak terlalu sadis dan keji, ditambah lagi dengan kisahnya bahwa pembunuhan demi pembunuhan dalam novel ini dilakukan oleh para remaja yang tampak haus akan darah dan kemenangan.

Selain itu banyak juga pembaca yang menilai bahwa ide kisah novel ini tidak orisinal karena kisahnya mirip dengan film Jepang Battle Royale yang juga mengangkat sebuah reality show berdarah dimana para pesertanya harus saling membunuh untuk meraih kemenangan.

Namun terlepas dari itu Kehadiran novel ini memberi warna baru bagi genre novel remaja yang sebelumnya diwarnai oleh dunia sihir dan vampir romantis. Di Amerika novel ini menjadi best seller mengalahkan serial Twilight. Bahkan kini seiring dengan beredarnya trailer resmi film The Hunger Games yang filmnya baru akan diputar pada Maret 2012 nanti novel ini menjadi semakin populer dan diperkirakan akan menjadi budaya pop baru di kalangan remaja Amerika dan dunia seperti serial Harry Potter dan The Twilight.

Yang pasti Goodreads, sebuah jejaring sosial bagi para pecinta buku dunia, memberikan rating yang sangat tinggi untuk The Hunger Games. Hingga review ini dibuat 54 ribu Goodreaders telah mereview novel ini dengan rata-rata memberi memberi 4.54 bintang untuk The Hunger Games

Di Indonesia sendiri, ketika novel ini pertama kali terbit pada tahun 2009 yang lalu tidak tidak terlalu mendapat respon yang luar biasa, namun kini lambat laun setelah dikabarkan akan difilmkan barulah pembaca kisah fantasi remaja Indonesia mulai melirik novel ini. Bahkan kini beberapa penggemar The Hunger Games di Indonesia membuat akun twitter dan website khusus bagi para pecinta The Hunger Game Trilogy yang berisi update terbaru seputar novel dan filmnya yang akan diputar 23 Maret 2012 nanti.

Sebuah budaya populer baru yang berasal dari novel best seller tampaknya akan muncul menggantikan Harry Potter dan Twilight, semoga ini tidak hanya eforia sesaat menjelang peluncuran filmnya saja melainkan sebuah momen untuk menularkan virus membaca melalui The Hunger Games Trilogy dan mengambil makna positif dalam novel yang begitu memikat in

Monday, June 11, 2012

silence









Eh, ternyata di antara saat terakhir kali kita nutup CRESCENDO dan buka sampul depan SILENCE, si Nora diculik lho. Gak tanggung-tanggung durasi nyuliknya, tiga bulanan. Ngapain saja ya dia selama itu? Ada di mana? Siapa yang nyulik? Apa sempat ganti baju? (huek huek huek! kalo gak sempat).


Sayangnya, saat ia dilempar dan dilepasin ke tengah kuburan, Nora mengalami amnesia (duh, di sini kok jadi inget sinetron-sinetron) sehingga gak bisa ingat apa yang terjadi selama lima bulan terakhir dari hidupnya. Nora menjalani kembali hidupnya, meskipun sifat ngeyelannya membuatnya berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Betapa berang saat ia tahu, sepanjang kepergiannya, ibunya malah pacaran dengan Hank Millar, bokap musuh bebuyutannya, Marcie. Nora juga heran melihat Vee Sky, sobatnya yang biasa jelalatan kalo ngeliat cowok cakep, bisa memproklamirkan diri sedang menjalani detoks cowok. Ia juga ngerasa aneh saat tahu Marcie yang agak-agak ramah padanya. Tapi yang paling membingungkan dan membuatnya penasaran adalah sosok Jev. Cowok satu ini menyebalkan dan jelas bad influence kalo ngeliat teman-teman gaulnya. Tapi kenapa Nora justru ngerasa Jev adalah bagian penting hidupnya yang ikut hilang dalam amnesianya?

Seiring isi novel setebal 585 halaman ini, satu persatu misteri terkuak. Akhirnya Nora bisa menyatukan potongan-potongan puzzle-nya, dan menghadapi manipulasi-manipulasi fakta yang selama ini dilakukan secara penuh perhitungan, cold blooded, dan kejam oleh ayah kandungnya. Rasa ingin tahu Nora ternyata kembali menyeretnya ke dalam kesulitan. Kali ini selain harus memikirkan banyak nyawa untuk diselamatkan, ia juga (terpaksa) harus memimpin satu perang di antara dua ras makhluk supranatural.

 keringat dingin benar-benar membasahi telapak tanganku saat membuka setiap halaman novel satu ini. Bahkan sampai lembar terakhir. Meskipun ada beberapa hal yang sudah bisa aku tebak, tapi tetap saja, seram dan tegang. Becca Fitzpatrick sangat mampu menghadirkan suspense dari awal sampai akhir cerita. Dari sisi cerita, ganjalanku cuma satu: si bad guy terlalu gampang mati. Aku jadi setengah berharap dia bakal muncul lagi entah dengan cara gimana di buku berikutnya.

Nah, saking hebohnya ini cerita, jelas dong kita sebagai pembaca jadi ikut larut dan kebawa naik-turunnya emosi. Ada satu hal yang pasti karena hal ini, aku jadi sebal sama Nora. Mau tauuuuu aja. Selalu nyari masalah. Tapi giliran kena masalah, selaluuu saja cuma bisa lolos karena diselamatkan Patch, atau Jev, atau Scott. Kalo memang mau coba-coba nyelidik, sikap impulsifnya dikurangin dikit, napa?

Tapi baca novel ini enak karena ceritanya memang asik. Penerjemahannya juga enak, gak nemu satu typo-pun. Ada ding satu, di halaman 369. Cek baris ke-9. Bukankah harusnya ‘Rasanya itu tidak bisa kita mungkiri’ instead of ‘pungkiri’? Tapi itu saja kok yang aku temukan :D

Oke, sekarang sampai ke cover. Hadoooh, di antara HUSH, HUSH, CRESCENDO, dan SILENCE ini, menurutku cover SILENCE yang paling enggak banget. Pose Drew Doyon yang sedang nggendong cewek entah siapa itu (kenapa bukan aku sih???) gak enak diliat. Tampak nanggung :( Pilihan kertas paperback-nya aku juga kurang suka. Memang, ketebalannya adalah perbaikan dari CRESCENDO yang tipis banget. Tapi kenapa glossy dan kemerah-merahan sih? Kesan misterius yang aku tangkap di cover dua serial awal jadi gak muncul di sini. Tapi aku salut dengan penempatan bulu warna merah di sono. Dramatis.

Oke, overall, novel ini masih sangat enak dibaca. Sekuel berikutnya, yang kabarnya berjudul FINALE jelas layak ditunggu.

crescendo









Ini deh susahnya bikin review untuk novel sekuelan. Mau gak mau pasti bakal hazardous content. Nyerepet spoiler. Kalo perlu baiknya pake tag: Parental Advisory. Hehehe, whatever!

Kalo dulu pas aku baca Hush, Hush, aku sempat berpikir banyak:

• Kenapa juga kematian bapak si Nora gak dibikin jadi cerita tersendiri?

• Meski jahat, aku juga kurang puas dengan porsi Marcie Millar yang cuma segitu doang. Harusnya ada
alasan yang melatarbelakangi sikapnya.

• Kenapa Rixon yang kayaknya seksi banget cuma segitu doang perannya?

• Terus kalo dibikin sekuel beneran, si Patch mau semembosankan apa, secara sekarang dia bukan malaikat terbuang, tapi sudah jadi malaikat pelindung?

Dan banyak lagi.

Untung semua plot yang mampir di otakku yang kurang kerjaan tergambar gamblang di Crescendo. Sebagai pengenal dulu, Crescendo ini adalah sekuel Hush, Hush (salah satu novel favoritku sepanjang masa). Ceritanya cuma berawal dari masa dua minggu setelah Hush, Hush berakhir, setelah sebelumnya ada flash back dikit tentang kejadian tertembaknya bapak Nora.

Yuk, mulai ya …. Punya malaikat pelindung ternyata nggak menjamin hidup manusia (Nora) jadi jauh lebih enak. Gadis itu tetap saja musti menghadapi dosis bullying harian dari Marcie, musti ketakutan menghadapi kemungkinan dapat nilai pas-pasan di pelajaran Kimia, kehabisan duit, dan lain-lain. Belum lagi ternyata kembali jadi malaikat nggak bikin Patch jadi alim. Cowok itu tetap saja kadang nyebelin, sok berahasia, dan parahnya malah memberi perhatian lebih ke musuh bebuyutan Nora.

Nggak tahan dengan situasi ini, Nora akhirnya memutuskan hubungan dengan Patch, dan malah ngasih angin ke Scott, teman masa kecilnya dulu yang muncul lagi. Scott juga tampaknya nggak lebih baik dari Patch. Cowok itu kayaknya dulu terlibat dengan geng yang bikin nyokapnya memutuskan balik ke kota kecil mereka. Jalan bareng Scott selain nyebelin, juga membuat Nora musti kena banyak masalah yang bikin dia harus kembali berkali-kali diselamatkan Patch, padahal dia sudah menolak kehadiran Patch sebagai Malaikat Pelindung. Plus Patch kayaknya malah pacaran dengan Marcie.Nah, Scott ini ternyata termasuk nephilim generasi pertama. Maka sekali lagi Nora musti terlibat dengan kelompok yang bertentangan: nephilim-malaikat terbuang-malaikat yang masih bertugas.

Kisah Crescendo agak lebih rumit dari Hush, Hush. Tapi bukan berarti lebih jelek lho. Rumit di sini karena ternyata cerita melibatkan banyak orang. Bahkan ibu Nora yang di novel pertama selamat dari banyak bahasan, ternyata di sini punya peran cukup gede, meski porsi dialog dan adegannya malah lebih dikit. Di sini kita jadi tau, dari mana darah nephilim yang masih mengalir di tubuh Nora berasal.

Sebagai novel, Crescendo menampilkan konflik yang kuat, jalan cerita yang rapi, meski aku sempat kuatir Becca Fitzpatrick bakal terjebak pada situasi mengharu-biru a la Bella Swan pas ditinggal Edward di New Moon. Untungnya nggak. Karena di sini, meski putus dan sedih dan sempat digambarkan semi depresi bentar, Nora masih bisa menjalani hidupnya dengan biasa. Dia bahkan beberapa kali sempat interaksi lagi dengan Patch, terlibat dialog-dialog konyol dan menjengkelkan. Nora nggak cengeng.Sayangnya porsi kelompok arch angel (penghulu malaikat) nggak gitu jelas. Di sini jadinya malah kesannya jadi kayak perang antar geng biasa.

Sebagai dongen aku nggak bisa komplain, masih sempurna seperti Hush, Hush. Cover-nya juga bisa cerita banyak (meski kualitas kertasnya bikin kecewa. Soalnya tipis dan mudah rusak). Apalagi kalo kamu bisa dapet gambar versi lengkapnya. Di versi lengkap novel, gak cuma Nora saja yang kliatan sedang berdiri di tengah hujan, tapi ada Patch yang siap jalan menjauh. Persis dengan jalan cerita di mana mereka putus dan Patch malah pacaran dengan Marcie. Tapi kekuatiranku menghadapi ending yang kurang memuaskan akhirnya terjadi juga di sini. Kalian masih ingat film-film thriller suspense yang menjamur di era awal 90-an (Basic Instinct, Raising Cain atau Cape Fear) horor pembunuh berantai di pertengahan hingga akhir 90-an (Scream, I Know What You Did Las Summer, Cruel Intention), dan di awal 200-an ada What Lies Beneath? Nah, ingat benang merah film-film ini nggak? Aku ingetin ya, di akhir cerita saat kita kira semuanya sudah jelas dan terpecahkan dan tokohnya boleh menarik napas lega, tiba-tiba ada teriakan khas, atau tulisan seram yang persis dengan tulisan di awal cerita, atau tangan yang tiba-tiba keluar dari TKP. Habis itu, langsung deh credit title. Seram, sekaligus nyebelin.

hush hush

Membaca novel ini sungguh amat menegangkan. Perasaaan takut kadang membuat kita mau berhenti membacanya, tetapi rasa penasaran karena ingin mengetahui misteri yang belum terungkap membuat kita tergoda untuk menamatkannya. Hal ini dipicu oleh berbagai kejadian menarik yang serba misterius dan berbau mistis

. Nora Grey, sang tokoh utama dalam novel setebal 488 halaman karya Becca Fitzpatrick ini digambarkan sebagai sosok gadis cantik, baik, cerdas dan rajin. Kematian ayahnya (mantan polisi) karena dibunuh seseorang sangat membekas dalam hatinya. Ia juga termasuk gadis yang cuek, pemberani, menyukai film dan menulis ulasan-ulasannya di sebuah majalah elektronik bernama eZine. Sementara ibunya sibuk bekerja keras diluar sana untuk membiayai sekolahnya. Berbeda dengan teman-teman sebayanya yang memiliki banyak waktu luang diluar, Nora justru lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah sendirian. Dia tinggal di daerah terpencil di Coldwater, sebuah kota yang lembab, berkabut, dan sering turun hujan. Dia tidak memiliki banyak teman, hanya Vee, seorang gadis lincah, periang, berpenampilan seksi dan suka bercanda yang dianggap sebagai teman dekatnya. Ada juga teman lainnya yaitu Elliot dan Jules yang sulit ditebak kepribadiannya.

 Selama ini Nora dikenal sebagai anak yang patuh, penurut dan selalu mengikuti aturan. Kemananapun ia pergi, ibunya tak pernah mengkhawatirkannya. Tetapi semua itu berubah dan berbalik 180 derajat ketika dirinya mulai mengenal Patch Cipriano, si mata hitam yang misterius.

 Suatu hari dosen di kampusnya memaksa Nora dan Patch duduk sebangku dalam kelas biologi. Hal ini tentu ada alasan kuat yang melatarbelakanginya. Nora yang memiliki keunggulan dibidang biologi diminta sang dosen untuk menjadi mentor bagi Patch dianggap bodoh dimata pelajaran tersebut. Hal ini merupakan hal yang biasa di Amerika sana, jika seorang murid yang cerdas diminta untuk menjadi mentor bagi kawannya yang dianggap kurang. Dengan begitu mereka bisa saling membantu sehingga tidak timbul kecemburuan intelektual.

 Pelajaran biologi menjadi begitu menegangkan ketika Nora dan Patch ditugaskan untuk saling mengenal satu sama lainnya dengan cara saling bertanya mengenai hal-hal yang bersifat pribadi. Sementara itu Patch, pria ganteng, seksi dan senang berbaju hitam tersebut diam-diam sebenarnya sudah memiliki penilaian tertentu terhadap Nora. Awalnya dia berusaha menjauhi Patch yang sering menggodanya, tetapi hal tersebut tampaknya mustahil. Betapa tidak, dimanapun Nora berada, hampir dipastikan Patch ada disana. Nora menduga, Patch punya maksud tersembunyi terhadap dirinya. Tetapi api cinta perlahan-lahan terlanjur tumbuh diantara keduanya sehingga mereka pun menjadi sepasang kekasih.

 Kisah roman berbau supranatural yang disuguhkan Becca Fitzpatrick ini bisa memicu animo pembaca remaja, terutama mereka yang menggemari seri Twilight. Salah satu pemikat dalam kisah ini adalah jati diri Patch sebagai salah satu anggota ras Nephilim, yaitu makhluk yang lahir dari hubungan fallen angel (malaikat pembangkang) dan manusia, lalu ras itu dianggap mengotori bumi dengan keturunan mereka.

 Di sini diceritakan kaum Nephillim memiliki kemampuan psikometri. Mereka memiliki kemampuan telepati, legilimency, memanipulasi pikiran, dan menciptakan ilusi. Kemampuan supranatural lainnya adalah mereka bisa bergerak menembus dimensi (melewati celah sempit atau menembus tembok) seperti yang dilakukan Patch saat menyusup dalam kamar mandi Nora yang dikunci.

 Patch sendiri adalah seorang malaikat pembangkang. Sayapnya dicabut karena dia jatuh cinta kepada seorang manusia. Lalu dia dilemparkan ke dunia fana untuk mengembara selamanya dalam penderitaan dan iri pada manusia.

 Banyak kejadian aneh, misterius dan menyeramkan terjadi sejak perkenalan Nora dengan Patch. Misalnya ketika ia hendak pulang kerumah, tiba-tiba ada seseorang yang melompat didepan mobilnya sehingga membuat Nora terkejut dan mengalami kecelakaan yang membuat mobilnya rusak. Saat Nora memanggil bantuan, tiba-tiba mobil yang sebelumnya rusak berat mendadak tampak mulus seperti sedia kala. Fantastis !

 Bukan hanya itu, Nora merasa ada seseorang yang selalu mengawasinya. Suatu hari ada seseorang yang mengendarai sebuah mobil terlihat membuntutinya sampai di rumah. Bahkan penguntit misterius tersebut sempat masuk ke rumahnya dan menyerang Vee, sahabat dekatnya. Akibat kejadian ini Vee sempat di operasi dan dirawat di rumah sakit. Nora mencurigai Patch sebagai dalang atas insiden tersebut.

 Kejadian lainnya adalah dimana Nora sering mendengar suara aneh dalam kepalanya atau ketika ia mengira dirinya terjatuh dari roller coaster saat mengendarainya dan mengalami penyerangan-penyerangan yang tak masuk diakal. Dia melihat semua kejadian itu seperti nyata, tetapi ketika banyak orang berdatangan, semuanya menjadi hilang dan kembali normal seperti biasa.

novel ini sangat membantuku untuk melewati rasa bosan saat libur. karena ceritanya yang menarik dan penuh dengan tanda tanya siapa diri Patch yang sesungguhnya ? Apa yang diinginkan Patch dari Nora ?  Benarkah Jules dan Eliot termasuk sahabat baik Nora ? Atau justru musuh dalam selimut ? bagaimana kelanjutan kisah cinta Nora dan Patch ? mau berkomplot dengan Patch untuk mencelakai Nora ? Masih banyak pertanyaan lain yang menggelitik untuk dijawab..

the awakening



 Chloe (necromancer) dan Rae (separo iblis) tertangkap Grup Edison (kelompok ilmuwan yang melakukan rekayasa genetis terhadap para subjek yang memiliki gen kemampuan supranatural) dan dimasukkan ke dalam program rehabilitasi mereka. Chloe berhasil mengetahui bahwa sejauh ini sudah ada tiga subjek yang dinyatakan gagal menjalani proses rehabilitasi (dan harus dihabisi): Amber, Brody, dan- teman sekamarnya di Rumah Lyle-Liz. Chloe memberitahukan fakta tersebut kepada Rae, dan temannya tersebut marah karena menganggap Chloe mengada-ada.

 Akhirnya nasib malah membuat Chloe melarikan diri dari lab markas Grup Edison tersebut bersama musuh bebuyutannya, Tori (penyihir) setelah mengecoh pengawal-pengawal mereka yang menginginkan Chloe menunjukkan tempat pertemuannya dengan Derek (remaja manusia serigala) dan Simon (penyihir, saudara asuh Derek).

 Dua gadis tersebut berhasil lolos dari pengejar-pengejar mereka dan bertemu dengan Derek serta Simon. Setelah kekecewaan dan kejutan yang mereka peroleh dari ayah Tori juga ayah Chloe (secara terpisah), mereka memutuskan untuk mencari Andrew Carson, teman dari ayah Derek dan Simon, kontak mereka terjadi situasi emergency.

 Maka mulai lah petualangan mereka yang berlangsung selama beberapa hari menuju pinggiran New York. Di jalan mereka sempat terpisah karena Derek harus kembali menjalani proses Berubah yang menyakitkan. Sebelumnya, Tori berhasil menemukan kekuatan supernya, Chloe kembali (tak sengaja) membangkitkan mayat, dan Derek nyaris sekali lagi membanting musuhnya dengan tenaga super yang ia miliki. Petualangan mereka tambah seru karena Derek dan Chloe harus bertemu dengan musuh tambahan, dua orang werewolf yang sedang dalam perjalanan ke Albany.

Sesampai di rumah Andrew, keinginan untuk mendapat perlindungan terpaksa tertunda saat mereka menyadari Andrew tidak ada di rumah. Setelah itu keempat remaja tersebut malah harus kembali dikejar-kejar orang-orang Grup Edison.

 Nah, bagaimana kelanjutan petualangan seru yang memadukan fantasy fiction, horor, misteri, dan sci-fi ini? Berhasilkan Grup Edison menangkap mereka? Siapa sajakah orang yang sebenarnya paling berbahaya dan paling jahat? Siapakah pengkhianat di antara remaja-remaja tersebut? Penasaran kan? Sebelum aku dapet lemparan sandal jepit karena bikin spoiler di sini, kayaknya mending sinopsis-nya cukup sekian saja deh:P

Well, masih sama menegangkannya dengan The Summoning. Adegan Chloe ketemuan dengan mayat-mayatnya tetep horor banget. Hehehe.


Meski begitu, efek terkaget-kaget waktu baca novel ini sudah gak separah pada saat aku baca The Summoning. Ceritanya lebih terfokus ke adegan kejar-mengejar. Kemampuan supranatural mereka yang tumbuh tidak banyak tereksploitasi di sini. (Mungkin) akan lebih memuaskan di The Reckoning.
Bisa dibilang, sebenarnya petualangan mereka kurang mendapat langkah maju sepanjang novel yang tebalnya 417 halaman ini. Apa yang menjadi pertanyaan mereka, siapa saja sebenarnya musuh mereka, masih belum banyak terjawab. Tapi mungkin itu memang cara Kelley Armstrong untuk menyimpan big bang di buku ke-3.

Di antara kejar-kejaran antara para remaja dengan Grup Edison, di antara ketegangan hubungan Derek-Chloe, Derek-Tori, Tori-Chloe, Tori-Simon, aku mulai nangkap sinyal-sinyal romance nih. Asiiiik. Kelley Armstrong munculinnya luwes banget, gak maksa “buruan jadian”. Jadi gak sabar pengen lihat kelanjutannya di The Reckoning. Walau kalo mau jujur, benernya aku sudah tau kelanjutan romance-nya. Hehehe :O) Tapi baca di edisi Indonesia-nya kan tetep nambah asik.

Nah, ngomong-ngomong soal edisi Indonesia, berarti bahasan musti nyampe ke terjemahan ya? Dibanding The Summoning, terjemahan The Awakening ini jauh lebih lancar, lebih pas, gak banyak kalimat aneh, gak banyak typo. Yang agak aneh cuma kalimat:
 “Lebih baik daripada bajumu. Ingin punya kain baru, Rachelle? Kau kan cuma punya dua.”-hal. 73
Mungkin akan lebih nyaman terbaca kalo “kain” itu diganti saja dengan “pakaian” jika ingin menggunakan istilah yang beda dari kata “baju” di kalimat sebelumnya.
Kalimat aslinya (sebelum diterjemahkan) sih begini:
“Which is more than we can say for your wardrobe. Like another wrap, Rachelle? You’ve only had two so far.”

Lalu, bagaimana rasanya membaca novel ini? Duh, ngebayangin remaja-remaja berumur pertengahan belasan tahun yang musti keluar dari kenyamanan rumah yang biasa menaungi mereka, hidup menggelandang di jalanan dan dikhianati orang-orangtua yang seharusnya menjadi tumpuan kepercayaan mereka, sungguh bikin trenyuh. Apalagi kesulitan yang mereka hadapi itu akibat eksperimen nekat ilmuwan yang kebanyakan masih berhubungan darah dengan mereka. Boro-boro mikirin sekolah yang terbengkalai, nyelametin nyawa saja terbaca tertatih-tatih :”(

Singkat kata, dari sisi ketegangan, kehebohan, pembangkit dan penerus rasa penasaran, novel ini aku beri jempol tiga. Tidak seheboh novel pertama (kecuali bagian zombie-zombie-annya) tapi justru makin bikin jengkel karena musti nunggu sekuel berikutnya Khusus terjemahannya ada empat jempol untuk skala lima.

the summoning


Oh. Wow.

Pilih mana, jadi orang yang sama sekali gak terkenal karena pemalu dan pendiam, atau jadi pusat perhatian karena memiliki banyak keistimewaan? Chloe pernah mengalami itu semua. Dan coba bayangkan jadi dia, karena ternyata dia tak menyukai semuanya.

 Chloe Saunders gadis yang baru saja menginjak 15 tahun dan bercita-cita menjadi sutradara film. Sejak kecil ia sudah ditinggal mati ibunya, dan diasuh deretan pembantu serta tantenya, Lauren Fellows. Ayahnya adalah pengusaha yang selalu bepergian ke luar negeri.

 Chloe yang pemalu, pendiam, dan cenderung gagap saat gugup musti menghadapi banyak kejutan di hari ulangtahunnya: menstruasi yang akhirnya muncul, anak kecil yang nyelonong ke depan taksi yang ia tumpangi (dan ternyata setelah ditingkahi teriakan histeris Chloe, ia tak bisa menemukan jejak atau pun mayat si anak kecil di kolong maupun atap taksi). Di sekolah ia juga sempat malu karena Brent yang ia taksir hanya cuek saja, dan puncaknya, ia diganggu sosok penjaga sekolah berseragam yang marah-marah dan meleleh di depannya.


Tumpukan stres membuat Chloe dikira mengamuk di sekolah. Akhirnya ia dikirim ke rumah sakit untuk menjalani perawatan. Diagnosis para dokter merujuk Rumah Lyle untuk perawatan intensif selanjutnya.
Ditinggal di Rumah Lyle bersama beberapa remaja lain yang sama-sama dianggap bermasalah membuat Chloe mulai mempertanyakan kewarasannya. Apalagi ia kemudian kembali mengalami penglihatan-penglihatan seram-yang orang lain tidak.

Skizofrenia, itulah diagnosisnya.

Rumah Lyle menampung remaja-remaja yang dianggap memiliki masalah mental. Ada Liz yang cantik, ramah, dan bisa menerbangkan benda-benda saat ia marah, Derek yang bongsor, jerawatan parah, jenius, galak/antisosial, serta memiliki tenaga yang luat biasa, lalu ada Simon-saudara angkat Derek-si blasteran Korea yang ganteng dan bisa membuat kabut dan menggerakkan benda-benda hanya dengan menjentikkan jari, Rae si pemuja api, dan Tori yang pendengki, jahat, dan memiliki gangguan kestabilan emosi. Chloe langsung kewalahan menghadapi sikap bermusuhan Tori dan kegalakan Derek.

Singkat cerita, Rumah Lyle ternyata menyimpan rahasia kelam. Keamanan anak-anak itu terancam, apalagi sebelumnya Liz sudah dibawa pergi karena tak bisa mengontrol kekuatannya-dan Chloe yakin, Liz akhirnya dibunuh.

Derek, Simon, Chloe, dan Rae akhirnya merencanakan pelarian dengan tujuan awal mencari ayah Derek dan Simon. Pelarian itu berubah menjadi kejar-kejaran di tengah malam karena mereka ketahuan.
Kisah fantastis. Di tengah guyuran deras novel-novel young-adult bernuansa fantasy, The Summoning karya Kelley Armstrong ini masih mampu menembus pasar dan menciptakan pembeda di antara pesaingnya. The Summoning akhirnya tidak hanya sibuk mengeksplorasi genre fantasi (yang biasanya penuh dengan makhluk-makhluk gaib). Novel ini malah menyuguhkan kejutan-kejutan khas drama thriller psikologis. Lorong-lorong sempit, bisik-bisik, kejar-kejaran, sifat penuh rahasia dan pengkhianatan, sebut saja … semua tanpa ampun disajikan di sini oleh Kelley Armstrong. Membuat aku semakin deg-degan dan berkeringat dingin, tapi juga gak mau ngelepasin meski harus masuk kamar mandi.

Untuk mendapatkan kisah yang tegang dan seru, selain plot dan jalan cerita, sang pengarang juga harus memberi perhatian penuh kepada karakter masing-masing tokoh. Nah, The Summoning memiliki kelebihan di semua lini tersebut. Ide ceritanya sangat kuat dan cukup orisinal. Padahal dengan banyaknya novel bergenre fantasi yang sudah beredar di pasaran, sebenarnya wajar banget kalo dia agak-agak terpengaruh novel lain yang sudah duluan muncul. Tapi Kelley berhasil lolos dari jebakan itu.

The Summoning memadukan kisah fantasi dengan ketegangan film drama psikologis, dan diberi bumbu action yang mendebarkan. Jalan ceritanya juga tidak melulu mengisahkan pelarian remaja-remaja tersebut. Kelley bahkan menambahkan misteri mengapa ada orang dewasa yang mau berepot-repot mengumpulkan supernatural-supernatural muda bermasalah dalam satu atap. Mengingatkanku pada sekolah berasrama yang didirikan Profesor Charles Xavier di The X-Men. Tapi kalo Profesor Charles Xavier mengumpulkan remaja-remaja itu untuk mengajari mereka mengontrol kekuatan dan memberi mereka pemahaman mengenai penggunaan kekuatan untuk kebaikan. Sedang di Rumah Lyle remaja-remaja tersebut diberitahu kalo apa yang mereka kira mereka lihat atau mereka pikir atau lakukan itu salah, lalu diberi label penyakit kejiwaan yang seram, dan kemudian disuruh untuk “sembuh”.

Karakter-karakter tokoh dimunculkan secara gemilang. Aku terkejut-kejut dengan perubahan sikap yang ditunjukkan para karakter di sepanjang jalan cerita, secara seperti biasa, saat kita membaca sebuah kisah, biasanya kan kita memang sudah mengira-ngira sebenarnya kisah ini bagaimana, siapa yang jahat, dan lain-lain. Nah, kalo kamu belum pernah baca The Summoning, percaya deh, pasti bakal sering jengkel mendapati tebakan-tebakanmu salah :D

Ada Chloe yang gagap, si jahat Tori, si jahat Derek, si ramah Simon, Dr. Gill, dll. Semua tokoh dibiarkan mengeksplorasi sifat-sifat yang sejak awal muncul sudah kita baca deskripsinya. Dan lihat lah ke mana jalan cerita membawa masing-masing karakter dalam plot.

Nah, sekarang aku sampai pada bumbu yang harus ada dalam genre YA. Cinta dan kelincahan. Dialog di The Summoning mengalir lancar. Aku banyak tersenyum membaca bagaimana remaja-remaja itu saling berinteraksi. Apalagi begitu sampai pada interaksi dengan lawan jenis. Banyak adegan dan dialog imut bertebaran. Tapi jangan ngarep deh untuk menemukan kisah cinta apalagi sampai adegan ciuman. Gak ada banget. Kita sudah terlalu disibukkan dengan petualangan mereka. Tapi jangan kuatir, kayaknya masih bisa berharap untuk menemukan cinta-cintaan atau monyet-monyetan di sekuel-sekuel The Summoning: The Awakening dan The Reckoning kalo ngeliat perkembangan hubungan tokoh-tokoh utama.

Penerjemahan juga lancar. Gak banyak typo, gak membingungkan. Hanya, seperti biasa, Ufuk terlalu bersemangat dalam penerjemahan, hingga kadang ada istilah yang seharusnya gak perlu kena babat terjemahan, ini juga tetep diindonesiakan. Contoh? “cincin basket”. Kayaknya kita lebih familier dengan istilah “ring basket” saja kali, ya. Tapi gak banyak kok. Dan gak ngganggu jalan cerita.

Nah, sekarang kekecewaanku baca novel ini deh. Aku tuh paling sebal kalo baca novel yang:
  1. Gak happy ending (hahaha, pecinta budaya kitsch banget ya:D)
  2. Jalan cerita yang nggantung di klimaks, menyisakan rasa penasaran.
Nah, gak cukup salah satunya, The Summoning mengecewakanku dengan memberiku dua kriteria tersebut di atas! Jadi do me a favor, please … bikin semaput aku saja, dan tolong jangan bangunkan aku sampai The Awakening terbit di pasaran! :”(

Thursday, May 17, 2012

dark goddess

  


Membunuh bukan hal yang menyenangkan, kecuali bagi seorang psiko. Billi SanGreal tidak pernah memilih untuk menjadi seorang templar yang jalannya selalu bersimpangan dengan membunuh. Hidup yang menuntunnya untuk bertindak sebagai pelindung umat manusia dengan pedang yang siap membabat Yang Tak Kudus.

Ancaman atas ketentraman umat manusia tak pernah usai, kali ini bumi terancam dengan ada penyihir kuno, Baba Yaga, yang ingin mempercepat datangnya kiamat. Namun, Baba Yaga membutuhkan Vasilisa untuk dapat mewujudkannya karena kekuatannya yang dapat mengendalikan alam. Sosok kunci Vasilisa, sang anak musim semilah yang kemudian menjadi rebutan antara ordo templar dan loony, manusia serigala yang menjadi pengikut Baba Yaga.

Dilema memenuhi benak Billi jika gagal menghabisi Baba Yaga, dia harus membunuh sang Vasilisa yang terlanjur melunakkan hatinya. Keputusan pun semakin sulit ketika Billi terinfeksi darah manusia serigala yang otomatis membuatnya harus tunduk pada Baba Yaga. Alhasil, petarungan tidak hanya terjadi di luar tapi juga di dalam diri Billy.

Membaca awal cerita terdapat beberapa hal yang agak tidak sinkron dengan serial pertama; Devil’s Kiss. Semisal tentang Kay yang digambarkan Elaine sebagai sosok yang bisa melihat masa depan [h.47]. Padahal jika ditelusuri kembali, Kay tidak bisa melihat masa depan, kecuali saat pertama kali bertemu dengan ordo templar. Sebenarnya hal tersebut tidak berpengaruh pada cerita, tapi tetap saja rasanya agak janggal.

Terlepas dari ketidak-sinkronan, saya berani berkata petualangan Billi SanGreal kali ini lebih seru dibandingkan ketika berhadapan dengan Malaikat Agung, Michael. Pertarungan hampir tidak pernah surut, perasaan waswas dan merasa diintai terus menghantui sejak awal cerita, bahkan saat cerita berbaur dengan romantisme, tidak membuat kisah menjadi lembek.

Kekuatan alam akan selalu menang

Satu lagi yang membuat buku ini menjadi spesial, adalah isu lingkungan yang diusung hingga membuat Dark Goddess bukan sekadar cerita fantasi ‘kosong’. Bobroknya bumilah yang menjadi latar belakang keputusan Baba Yaga untuk mempercepat kiamat. Sehingga agak sulit untuk tidak memaklumi [bahkan mendukung] alasan sang antagonis, ketika secara realita alam memang mulai memasuki kondisi sekarat.

Saya sedikit menganjurkan kalian membaca Devil’s Kiss sebelum Dark Goddess supaya keningmu tak perlu berkerut saat Billi karena mengingat masa silam. Namun, jika tidak pun tak apa karena jalan ceritanya sendiri tidak terlalu dipengaruhi oleh serial pertamanya. Oiya, jempol untuk desain sampul Dark Goddess, I Like it!

Wednesday, May 16, 2012

devils kiss

   
Kau benar, Billi. Jumlah kita sangat sedikit tapi kita tetap bisa menjaga agar kegelapan tidak berkuasa. Mengapa? Karena Kita bengis. Kita memberikan mimpi buruk pada para monster. … Rasa takut adalah senjata yang sangat ampuh. [h.110]

Sejarah menyebutkan bahwa Ksatria Templar adalah ordo tentara salib yang bertugas untuk melindungi peziarah Kristen dari Eropa ke Yerusalem. Penyebab kejatuhan ordo ini sendiri menyimpan banyak tanda tanya, tapi yang jelas sejak Jacques de Molay, Sang Grand Master Templar, dibakar hidup-hidup, ordo templar dianggap sudah resmi hilang. Namun, walaupun sudah dibubarkan, beberapa templar berhasil lolos dan menghilangkan jejak, yang kemudian menyusun kekuatan dan menyusup ke dalam gilda (serikat sekerja) terpenting di Kepulauan Inggris.*

Devil’s Kiss mengangkat sejarah templar sebagai latar kisah heroik Billi, satu-satunya perempuan yang menjadi seorang templar. Arthur, ayah Billi sekaligus Grand Master Templar, adalah sosok yang berperan besar membentuk Billi menjadi petarung. Kondisi tersebut tidak serta merta membuat Billi bangga, alih-alih merasa tersiksa dan mulai memimpikan kehidupan normal menjelma dalam kesehariannya. Kehadiran Michael membuat Billi memiliki harapan mewujudkan mimpinya, tapi sayang keinginannya tidak semudah bayangan. Petaka dan kematian datang silih berganti, misteri pun mulai terungkap, hingga orang yang dicintai pun harus direlakan.

Dahulu peran ksatria templar adalah sebagai pelindung peziarah, hingga berganti abad, tugas mereka pun mulai mengalami pergeseran. Masih tetap sebagai pelindung, tetapi berhubungan dengan aksi pengusiran roh-roh yang bergentayangan di bumi. Membaca aksi Billi di awal cerita tidak membuat kepalaku membayangkan seorang ksatria templar. Doa pengusiran roh dan air suci mengingatkan saya pada aksi John Constantine dalam film fiction supernatural, Constantine, yang diperankan dengan brilian oleh Keanu Reeves. Untungnya, semakin ke belakang aura patriotik khas pejuang, terasa semakin kental sehingga tidak membuat imajinasiku melenceng.

Walaupun tema cerita tentang kelompok petarung, aksi ‘hajar-menghajar’ tidak terlalu banyak. Penulis lebih sering menyoroti tentang kemarahan Billi pada ketidak-normalan kehidupannya, ketidak-adilan Arthur sebagai ayahnya, dan keinginannya untuk memberontak dari ordo templar. Sedikit kecewa sih, tapi bersyukur karena penulis mampu mengolah emosi tokoh lewat kata-kata dan sukses membuat saya ikut merasakan momen sedih, depresi, dan pikiran kalut Billi. Kematian yang hampir menyelimuti seluruh kisah perjalanan Ksatria Templar juga berhasil membuat saya deg-degan ketika membacanya di malam hari dalam kondisi rumah yang sepi.

… tidak ada kematian yang bersifat agung dan terhormat. Kematian itu brutal dan membuatmu merasa sepi dan takut [h. 214]


Betewe, sedikit misteri yang memenuhi benak saya, kenapa tulah kesepuluh mengenai anak sulung? Kenapa anak sulung? Kenapa? *pertanyaan yang muncul dari kepala pe-review yang juga anak sulung*

demon glss


Sophie Mercer pikir dirinya penyihir. Itulah alasan utamanya mengapa ia dikirim ke Hex Hall, sekolah lembaga pemasyarakatan untuk Prodigium (alias penyihir, shapeshifter, dan peri) nakal. Tapi kemudian dia menemukan rahasia keluarga, dan kenyataan bahwa cowok yang ditaksirnya, Archer Cross, ternyata seorang agen Mata, kelompok yang bertekad untuk menlenyapkan Prodigium dari muka bumi. Ternyata, Sophie adalah demon, salah satu dari hanya dua demon di dunia—yang satunya adalah ayahnya. Yang lebih buruk lagi, ia punya kekuatan yang mengancam nyawa orang-orang yang dicintainya. Yang menjadi alasan Sophie memutuskan untuk pergi ke London untuk menjalani Pemunahan, prosedur berbahaya yang bisa menghilangkan kekuatannya untuk selama-lamanya–atau menewaskannya. Tapi begitu Sophie tiba, dia dikejutkan oleh penemuan baru. Teman serumahnya? Mereka juga demon. Artinya, seseorang sedang membangkitkan demon secara diam-diam, dengan rencana mengerikan untuk menggunakan kekuatan mereka, dan mungkin untuk selama-lamanya. Sementara itu, Mata bertekad untuk memburu Sophie, dan mereka menggunakan Archer untuk melakukannya. Bukannya Sophie masih punya perasaan terhadap pemuda itu. Benarkah? *** “Semester lalu sungguh berat,” kataku kepada Dad. “Berat?” Dad menirukan, sambil mengambil berkasku. “Sebentar. Pada hari pertamamu di Hecate, kau diserang werewolf. Kau menghina seorang guru, yang berujung pada tugas ruang bawah tanah dengan Archer Cross. Menurut catatan, kalian berdua jadi ‘dekat’. Rupanya cukup dekat sehingga kau bisa melihat tanda L’Occhio di Dio di dadanya.” Aku merona mendengarnya, dan merasakan lengan Mom yang merangkulku mengencang. Selama enam bulan ini, aku menceritakan banyak kisah tentang Archer, tapi tidak semuanya. Khususnya tidak menceritakan bagian aku-yang-bermesraan-di-ruang-bawah-tanah-dengan-warlock-yang-siap-membunuh-yang-bekerja-untuk-Mata. Pujian-pujian untuk HEX HALL “Debut Hawkins yang menghibur disesaki oleh misteri dan makhluk-makhluk fantasi”—Publishsers Weekly “Veronica Marsh bertemu dengan Percy Jackson dan Olympian”—Kirkus Reviews “Intinya: Sophie Mercer sudah menyihirku!”—Becca Fitzpatrick, penulis buku laris Hush, Hush dan Crescendo *** Rachel Hawkins adalah guru bahasa Inggris SMA sebelum menjadi penulis penuh waktu. Dia dan keluarganya tinggal di Alabama, dan saat ini sedang mengerjakan buku selanjutnya dari seri Hex Hall. Sepanjang pengetahuannya, Rachel bukanlah penyihir, walaupun beberapa mantan muridnya mungkin tidak sependapat…. Kunjungi Rachel dalam jaringan www.rachel-hawkins.com

Hex Hall by rachel hawkins

Memiliki kekuatan mengubah benda menjadi seperti yang kauinginkan atau memunculkan benda yang kaubutuhkan tanpa harus mencari, pastinya sesuatu banget? Namun, bagaimana jika ternyata kekuatanmu lebih dari sekadar hal-hal sepele tersebut, bagaimana dengan kekuatan mengubah cuaca? Atau melenyapkan manusia yang kau benci? Terlihat gak-sesuatu-banget lagi deh. Apalagi akibat memiliki kekuatan itu, kau menjadi target-bunuh nomor wahid yang sangat diincar oleh para pemburu penyihir. Okey, pastinya kau akan berpikir ulang untuk memiliki kekuatan tersebut. Kekuatan itulah yang menimpa Sophie Mercer, dan sayangnya, si penyihir muda ini tidak dapat begitu saja menghilangkan kekuatan sihir yang memang diwariskan secara turun-temurun. Kejadian memalukan akibat keteledorannya menggunakan Mantra Cinta menggiringnya ke Hecate Hall, sebuah rumah pelayanan masyarakat yang menampung anak-anak berkekuatan khusus hingga usia mereka 18 tahun. Awalnya kisah Sophie Mercer terkesan gak seru-seru amat, karena ceritanya seperti tema kebanyakan yang kali ini tentang cewek baru yang naksir cowok terganteng di sekolah, sayangnya udah punya pacar cewek cuaaantik tapi jutek. Tapi, kejadian Chaston terkapar di kamar mandi dengan dua lubang berdarah di leher mulai membuat menambah minat saya untuk melototin buku ini. Mulailah segala misteri dan kejutan semakin menarik sekaligus membuat penasaran di sepanjang cerita hingga halaman terakhir. Kejutan tentang ayah Sophie, sosok di balik hantu yang terus mengikutinya, penyusup yang tak disangka-sangka, semuanya terjalin dengan gaya penceritaan yang menyelipkan rasa penasaran. Seperti saya katakan sebelumnya, cerita sempat terkesan membosankan. Untungnya, semua tertutupi kelihaian Rachel, penulis yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris ini, dalam meramu dialog sarkasme yang kocak dan menyelipkan kejutan-kejutan kecil di awal cerita mampu membuat saya betah berlama-lama dengan Sophie. Saya acungkan jempol juga untuk penerjemahnya yang mampu membahasa-Indonesiakan *eaaa* Hex Hall tanpa kehilangan pesonanya. Dan satu kalimat yang membuat saya tertawa dan mengacungkan empat jempol atas terjemahan, “Kutu kupret makan karet” [h.296] Sekelebat saya jadi teringat Billi SanGreal Series [ The Devil’s Kiss & Dark Godness ] ketika membaca Hex Hall. Billi SanGreal adalah Sang Templar yang bertugas menyingkirkan roh atau makhluk yang berkuatan ganjil, sedangkan Sophie, sosok penyihir yang harus belajar mempertahankan diri dari sosok seperti Billi. Seperti membaca dua sisi kehidupan meskipun alur cerita sangat jauh berbeda dengan kesamaan tokohnya adalah gadis yang berada pada posisi yang tidak diinginkan tapi tak bisa melakukan apapun. Well, yang pasti saya masih penasaran dengan pertemuan Sophie dengan sang Ayah, bagaimana jadinya? Apa yang akan terjadi? Ditunggu kelanjutan dari petualangan Sophie.

Saturday, March 10, 2012

the queen must die



Dikisahkan seorang anak perempuan bernama Katie yang karena kemarahannya kepada ibunya yang ia tuturkan pada diary-nya, membawanya terlempar ke suatu masa kerajaan Inggris (ratu Victoria) dan bertemu dengan Putri Alice. Di sinilah Katie memulai petualangan barunya. Dia bertemu dengan James, anak dokter Kerajaan, dan kemudian mereka bertiga sepakat untuk mengembalikan Katie ke dunianya yang sebenarnya. Sementara mencari jalan keluar mereka juga berencana membunuh Ratu.

Saturday, February 11, 2012

novel still




Bima si cowok macho yang suka panjat gunung emang terkenal playboy, suka mengintimidasi, dan posesif. Kalau udah naksir cewek, dia langsung ngajak jalan. Nggak perduli tu cewek naksir dia atau nggak. Dan tanpa bilang cinta, Bima menyatakan Fani sebagai pacarnya.

Fani menerima Bima karena terpakasa. Tapi ketika rasa tertekannya udah di puncak, dia minta putus dari Bima! Jelas Bima nggak mau ngelepas Fani, tapi Fani ngotot.

Di saat Fani bebas merdeka, Bima patah hati. Di saat Fani nemuin gebetan baru, Bima merenung. Cowok itu sok tegar, sok baik-baik saja, sok pantang bilang cinta, padahal hatinya sakit.

Sebenarnya Bima nggak sepenuhnya melepas Fani. Fani juga nggak benar-benar memnbenci Bima. Ketika di suatu siang Bima ketemu cewek itu, Bima nggak sanggup menutupi kata hatinya.