Translate

Cute Rocking Baby Monkey

Monday, June 11, 2012

silence









Eh, ternyata di antara saat terakhir kali kita nutup CRESCENDO dan buka sampul depan SILENCE, si Nora diculik lho. Gak tanggung-tanggung durasi nyuliknya, tiga bulanan. Ngapain saja ya dia selama itu? Ada di mana? Siapa yang nyulik? Apa sempat ganti baju? (huek huek huek! kalo gak sempat).


Sayangnya, saat ia dilempar dan dilepasin ke tengah kuburan, Nora mengalami amnesia (duh, di sini kok jadi inget sinetron-sinetron) sehingga gak bisa ingat apa yang terjadi selama lima bulan terakhir dari hidupnya. Nora menjalani kembali hidupnya, meskipun sifat ngeyelannya membuatnya berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Betapa berang saat ia tahu, sepanjang kepergiannya, ibunya malah pacaran dengan Hank Millar, bokap musuh bebuyutannya, Marcie. Nora juga heran melihat Vee Sky, sobatnya yang biasa jelalatan kalo ngeliat cowok cakep, bisa memproklamirkan diri sedang menjalani detoks cowok. Ia juga ngerasa aneh saat tahu Marcie yang agak-agak ramah padanya. Tapi yang paling membingungkan dan membuatnya penasaran adalah sosok Jev. Cowok satu ini menyebalkan dan jelas bad influence kalo ngeliat teman-teman gaulnya. Tapi kenapa Nora justru ngerasa Jev adalah bagian penting hidupnya yang ikut hilang dalam amnesianya?

Seiring isi novel setebal 585 halaman ini, satu persatu misteri terkuak. Akhirnya Nora bisa menyatukan potongan-potongan puzzle-nya, dan menghadapi manipulasi-manipulasi fakta yang selama ini dilakukan secara penuh perhitungan, cold blooded, dan kejam oleh ayah kandungnya. Rasa ingin tahu Nora ternyata kembali menyeretnya ke dalam kesulitan. Kali ini selain harus memikirkan banyak nyawa untuk diselamatkan, ia juga (terpaksa) harus memimpin satu perang di antara dua ras makhluk supranatural.

 keringat dingin benar-benar membasahi telapak tanganku saat membuka setiap halaman novel satu ini. Bahkan sampai lembar terakhir. Meskipun ada beberapa hal yang sudah bisa aku tebak, tapi tetap saja, seram dan tegang. Becca Fitzpatrick sangat mampu menghadirkan suspense dari awal sampai akhir cerita. Dari sisi cerita, ganjalanku cuma satu: si bad guy terlalu gampang mati. Aku jadi setengah berharap dia bakal muncul lagi entah dengan cara gimana di buku berikutnya.

Nah, saking hebohnya ini cerita, jelas dong kita sebagai pembaca jadi ikut larut dan kebawa naik-turunnya emosi. Ada satu hal yang pasti karena hal ini, aku jadi sebal sama Nora. Mau tauuuuu aja. Selalu nyari masalah. Tapi giliran kena masalah, selaluuu saja cuma bisa lolos karena diselamatkan Patch, atau Jev, atau Scott. Kalo memang mau coba-coba nyelidik, sikap impulsifnya dikurangin dikit, napa?

Tapi baca novel ini enak karena ceritanya memang asik. Penerjemahannya juga enak, gak nemu satu typo-pun. Ada ding satu, di halaman 369. Cek baris ke-9. Bukankah harusnya ‘Rasanya itu tidak bisa kita mungkiri’ instead of ‘pungkiri’? Tapi itu saja kok yang aku temukan :D

Oke, sekarang sampai ke cover. Hadoooh, di antara HUSH, HUSH, CRESCENDO, dan SILENCE ini, menurutku cover SILENCE yang paling enggak banget. Pose Drew Doyon yang sedang nggendong cewek entah siapa itu (kenapa bukan aku sih???) gak enak diliat. Tampak nanggung :( Pilihan kertas paperback-nya aku juga kurang suka. Memang, ketebalannya adalah perbaikan dari CRESCENDO yang tipis banget. Tapi kenapa glossy dan kemerah-merahan sih? Kesan misterius yang aku tangkap di cover dua serial awal jadi gak muncul di sini. Tapi aku salut dengan penempatan bulu warna merah di sono. Dramatis.

Oke, overall, novel ini masih sangat enak dibaca. Sekuel berikutnya, yang kabarnya berjudul FINALE jelas layak ditunggu.

crescendo









Ini deh susahnya bikin review untuk novel sekuelan. Mau gak mau pasti bakal hazardous content. Nyerepet spoiler. Kalo perlu baiknya pake tag: Parental Advisory. Hehehe, whatever!

Kalo dulu pas aku baca Hush, Hush, aku sempat berpikir banyak:

• Kenapa juga kematian bapak si Nora gak dibikin jadi cerita tersendiri?

• Meski jahat, aku juga kurang puas dengan porsi Marcie Millar yang cuma segitu doang. Harusnya ada
alasan yang melatarbelakangi sikapnya.

• Kenapa Rixon yang kayaknya seksi banget cuma segitu doang perannya?

• Terus kalo dibikin sekuel beneran, si Patch mau semembosankan apa, secara sekarang dia bukan malaikat terbuang, tapi sudah jadi malaikat pelindung?

Dan banyak lagi.

Untung semua plot yang mampir di otakku yang kurang kerjaan tergambar gamblang di Crescendo. Sebagai pengenal dulu, Crescendo ini adalah sekuel Hush, Hush (salah satu novel favoritku sepanjang masa). Ceritanya cuma berawal dari masa dua minggu setelah Hush, Hush berakhir, setelah sebelumnya ada flash back dikit tentang kejadian tertembaknya bapak Nora.

Yuk, mulai ya …. Punya malaikat pelindung ternyata nggak menjamin hidup manusia (Nora) jadi jauh lebih enak. Gadis itu tetap saja musti menghadapi dosis bullying harian dari Marcie, musti ketakutan menghadapi kemungkinan dapat nilai pas-pasan di pelajaran Kimia, kehabisan duit, dan lain-lain. Belum lagi ternyata kembali jadi malaikat nggak bikin Patch jadi alim. Cowok itu tetap saja kadang nyebelin, sok berahasia, dan parahnya malah memberi perhatian lebih ke musuh bebuyutan Nora.

Nggak tahan dengan situasi ini, Nora akhirnya memutuskan hubungan dengan Patch, dan malah ngasih angin ke Scott, teman masa kecilnya dulu yang muncul lagi. Scott juga tampaknya nggak lebih baik dari Patch. Cowok itu kayaknya dulu terlibat dengan geng yang bikin nyokapnya memutuskan balik ke kota kecil mereka. Jalan bareng Scott selain nyebelin, juga membuat Nora musti kena banyak masalah yang bikin dia harus kembali berkali-kali diselamatkan Patch, padahal dia sudah menolak kehadiran Patch sebagai Malaikat Pelindung. Plus Patch kayaknya malah pacaran dengan Marcie.Nah, Scott ini ternyata termasuk nephilim generasi pertama. Maka sekali lagi Nora musti terlibat dengan kelompok yang bertentangan: nephilim-malaikat terbuang-malaikat yang masih bertugas.

Kisah Crescendo agak lebih rumit dari Hush, Hush. Tapi bukan berarti lebih jelek lho. Rumit di sini karena ternyata cerita melibatkan banyak orang. Bahkan ibu Nora yang di novel pertama selamat dari banyak bahasan, ternyata di sini punya peran cukup gede, meski porsi dialog dan adegannya malah lebih dikit. Di sini kita jadi tau, dari mana darah nephilim yang masih mengalir di tubuh Nora berasal.

Sebagai novel, Crescendo menampilkan konflik yang kuat, jalan cerita yang rapi, meski aku sempat kuatir Becca Fitzpatrick bakal terjebak pada situasi mengharu-biru a la Bella Swan pas ditinggal Edward di New Moon. Untungnya nggak. Karena di sini, meski putus dan sedih dan sempat digambarkan semi depresi bentar, Nora masih bisa menjalani hidupnya dengan biasa. Dia bahkan beberapa kali sempat interaksi lagi dengan Patch, terlibat dialog-dialog konyol dan menjengkelkan. Nora nggak cengeng.Sayangnya porsi kelompok arch angel (penghulu malaikat) nggak gitu jelas. Di sini jadinya malah kesannya jadi kayak perang antar geng biasa.

Sebagai dongen aku nggak bisa komplain, masih sempurna seperti Hush, Hush. Cover-nya juga bisa cerita banyak (meski kualitas kertasnya bikin kecewa. Soalnya tipis dan mudah rusak). Apalagi kalo kamu bisa dapet gambar versi lengkapnya. Di versi lengkap novel, gak cuma Nora saja yang kliatan sedang berdiri di tengah hujan, tapi ada Patch yang siap jalan menjauh. Persis dengan jalan cerita di mana mereka putus dan Patch malah pacaran dengan Marcie. Tapi kekuatiranku menghadapi ending yang kurang memuaskan akhirnya terjadi juga di sini. Kalian masih ingat film-film thriller suspense yang menjamur di era awal 90-an (Basic Instinct, Raising Cain atau Cape Fear) horor pembunuh berantai di pertengahan hingga akhir 90-an (Scream, I Know What You Did Las Summer, Cruel Intention), dan di awal 200-an ada What Lies Beneath? Nah, ingat benang merah film-film ini nggak? Aku ingetin ya, di akhir cerita saat kita kira semuanya sudah jelas dan terpecahkan dan tokohnya boleh menarik napas lega, tiba-tiba ada teriakan khas, atau tulisan seram yang persis dengan tulisan di awal cerita, atau tangan yang tiba-tiba keluar dari TKP. Habis itu, langsung deh credit title. Seram, sekaligus nyebelin.

hush hush

Membaca novel ini sungguh amat menegangkan. Perasaaan takut kadang membuat kita mau berhenti membacanya, tetapi rasa penasaran karena ingin mengetahui misteri yang belum terungkap membuat kita tergoda untuk menamatkannya. Hal ini dipicu oleh berbagai kejadian menarik yang serba misterius dan berbau mistis

. Nora Grey, sang tokoh utama dalam novel setebal 488 halaman karya Becca Fitzpatrick ini digambarkan sebagai sosok gadis cantik, baik, cerdas dan rajin. Kematian ayahnya (mantan polisi) karena dibunuh seseorang sangat membekas dalam hatinya. Ia juga termasuk gadis yang cuek, pemberani, menyukai film dan menulis ulasan-ulasannya di sebuah majalah elektronik bernama eZine. Sementara ibunya sibuk bekerja keras diluar sana untuk membiayai sekolahnya. Berbeda dengan teman-teman sebayanya yang memiliki banyak waktu luang diluar, Nora justru lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah sendirian. Dia tinggal di daerah terpencil di Coldwater, sebuah kota yang lembab, berkabut, dan sering turun hujan. Dia tidak memiliki banyak teman, hanya Vee, seorang gadis lincah, periang, berpenampilan seksi dan suka bercanda yang dianggap sebagai teman dekatnya. Ada juga teman lainnya yaitu Elliot dan Jules yang sulit ditebak kepribadiannya.

 Selama ini Nora dikenal sebagai anak yang patuh, penurut dan selalu mengikuti aturan. Kemananapun ia pergi, ibunya tak pernah mengkhawatirkannya. Tetapi semua itu berubah dan berbalik 180 derajat ketika dirinya mulai mengenal Patch Cipriano, si mata hitam yang misterius.

 Suatu hari dosen di kampusnya memaksa Nora dan Patch duduk sebangku dalam kelas biologi. Hal ini tentu ada alasan kuat yang melatarbelakanginya. Nora yang memiliki keunggulan dibidang biologi diminta sang dosen untuk menjadi mentor bagi Patch dianggap bodoh dimata pelajaran tersebut. Hal ini merupakan hal yang biasa di Amerika sana, jika seorang murid yang cerdas diminta untuk menjadi mentor bagi kawannya yang dianggap kurang. Dengan begitu mereka bisa saling membantu sehingga tidak timbul kecemburuan intelektual.

 Pelajaran biologi menjadi begitu menegangkan ketika Nora dan Patch ditugaskan untuk saling mengenal satu sama lainnya dengan cara saling bertanya mengenai hal-hal yang bersifat pribadi. Sementara itu Patch, pria ganteng, seksi dan senang berbaju hitam tersebut diam-diam sebenarnya sudah memiliki penilaian tertentu terhadap Nora. Awalnya dia berusaha menjauhi Patch yang sering menggodanya, tetapi hal tersebut tampaknya mustahil. Betapa tidak, dimanapun Nora berada, hampir dipastikan Patch ada disana. Nora menduga, Patch punya maksud tersembunyi terhadap dirinya. Tetapi api cinta perlahan-lahan terlanjur tumbuh diantara keduanya sehingga mereka pun menjadi sepasang kekasih.

 Kisah roman berbau supranatural yang disuguhkan Becca Fitzpatrick ini bisa memicu animo pembaca remaja, terutama mereka yang menggemari seri Twilight. Salah satu pemikat dalam kisah ini adalah jati diri Patch sebagai salah satu anggota ras Nephilim, yaitu makhluk yang lahir dari hubungan fallen angel (malaikat pembangkang) dan manusia, lalu ras itu dianggap mengotori bumi dengan keturunan mereka.

 Di sini diceritakan kaum Nephillim memiliki kemampuan psikometri. Mereka memiliki kemampuan telepati, legilimency, memanipulasi pikiran, dan menciptakan ilusi. Kemampuan supranatural lainnya adalah mereka bisa bergerak menembus dimensi (melewati celah sempit atau menembus tembok) seperti yang dilakukan Patch saat menyusup dalam kamar mandi Nora yang dikunci.

 Patch sendiri adalah seorang malaikat pembangkang. Sayapnya dicabut karena dia jatuh cinta kepada seorang manusia. Lalu dia dilemparkan ke dunia fana untuk mengembara selamanya dalam penderitaan dan iri pada manusia.

 Banyak kejadian aneh, misterius dan menyeramkan terjadi sejak perkenalan Nora dengan Patch. Misalnya ketika ia hendak pulang kerumah, tiba-tiba ada seseorang yang melompat didepan mobilnya sehingga membuat Nora terkejut dan mengalami kecelakaan yang membuat mobilnya rusak. Saat Nora memanggil bantuan, tiba-tiba mobil yang sebelumnya rusak berat mendadak tampak mulus seperti sedia kala. Fantastis !

 Bukan hanya itu, Nora merasa ada seseorang yang selalu mengawasinya. Suatu hari ada seseorang yang mengendarai sebuah mobil terlihat membuntutinya sampai di rumah. Bahkan penguntit misterius tersebut sempat masuk ke rumahnya dan menyerang Vee, sahabat dekatnya. Akibat kejadian ini Vee sempat di operasi dan dirawat di rumah sakit. Nora mencurigai Patch sebagai dalang atas insiden tersebut.

 Kejadian lainnya adalah dimana Nora sering mendengar suara aneh dalam kepalanya atau ketika ia mengira dirinya terjatuh dari roller coaster saat mengendarainya dan mengalami penyerangan-penyerangan yang tak masuk diakal. Dia melihat semua kejadian itu seperti nyata, tetapi ketika banyak orang berdatangan, semuanya menjadi hilang dan kembali normal seperti biasa.

novel ini sangat membantuku untuk melewati rasa bosan saat libur. karena ceritanya yang menarik dan penuh dengan tanda tanya siapa diri Patch yang sesungguhnya ? Apa yang diinginkan Patch dari Nora ?  Benarkah Jules dan Eliot termasuk sahabat baik Nora ? Atau justru musuh dalam selimut ? bagaimana kelanjutan kisah cinta Nora dan Patch ? mau berkomplot dengan Patch untuk mencelakai Nora ? Masih banyak pertanyaan lain yang menggelitik untuk dijawab..

the awakening



 Chloe (necromancer) dan Rae (separo iblis) tertangkap Grup Edison (kelompok ilmuwan yang melakukan rekayasa genetis terhadap para subjek yang memiliki gen kemampuan supranatural) dan dimasukkan ke dalam program rehabilitasi mereka. Chloe berhasil mengetahui bahwa sejauh ini sudah ada tiga subjek yang dinyatakan gagal menjalani proses rehabilitasi (dan harus dihabisi): Amber, Brody, dan- teman sekamarnya di Rumah Lyle-Liz. Chloe memberitahukan fakta tersebut kepada Rae, dan temannya tersebut marah karena menganggap Chloe mengada-ada.

 Akhirnya nasib malah membuat Chloe melarikan diri dari lab markas Grup Edison tersebut bersama musuh bebuyutannya, Tori (penyihir) setelah mengecoh pengawal-pengawal mereka yang menginginkan Chloe menunjukkan tempat pertemuannya dengan Derek (remaja manusia serigala) dan Simon (penyihir, saudara asuh Derek).

 Dua gadis tersebut berhasil lolos dari pengejar-pengejar mereka dan bertemu dengan Derek serta Simon. Setelah kekecewaan dan kejutan yang mereka peroleh dari ayah Tori juga ayah Chloe (secara terpisah), mereka memutuskan untuk mencari Andrew Carson, teman dari ayah Derek dan Simon, kontak mereka terjadi situasi emergency.

 Maka mulai lah petualangan mereka yang berlangsung selama beberapa hari menuju pinggiran New York. Di jalan mereka sempat terpisah karena Derek harus kembali menjalani proses Berubah yang menyakitkan. Sebelumnya, Tori berhasil menemukan kekuatan supernya, Chloe kembali (tak sengaja) membangkitkan mayat, dan Derek nyaris sekali lagi membanting musuhnya dengan tenaga super yang ia miliki. Petualangan mereka tambah seru karena Derek dan Chloe harus bertemu dengan musuh tambahan, dua orang werewolf yang sedang dalam perjalanan ke Albany.

Sesampai di rumah Andrew, keinginan untuk mendapat perlindungan terpaksa tertunda saat mereka menyadari Andrew tidak ada di rumah. Setelah itu keempat remaja tersebut malah harus kembali dikejar-kejar orang-orang Grup Edison.

 Nah, bagaimana kelanjutan petualangan seru yang memadukan fantasy fiction, horor, misteri, dan sci-fi ini? Berhasilkan Grup Edison menangkap mereka? Siapa sajakah orang yang sebenarnya paling berbahaya dan paling jahat? Siapakah pengkhianat di antara remaja-remaja tersebut? Penasaran kan? Sebelum aku dapet lemparan sandal jepit karena bikin spoiler di sini, kayaknya mending sinopsis-nya cukup sekian saja deh:P

Well, masih sama menegangkannya dengan The Summoning. Adegan Chloe ketemuan dengan mayat-mayatnya tetep horor banget. Hehehe.


Meski begitu, efek terkaget-kaget waktu baca novel ini sudah gak separah pada saat aku baca The Summoning. Ceritanya lebih terfokus ke adegan kejar-mengejar. Kemampuan supranatural mereka yang tumbuh tidak banyak tereksploitasi di sini. (Mungkin) akan lebih memuaskan di The Reckoning.
Bisa dibilang, sebenarnya petualangan mereka kurang mendapat langkah maju sepanjang novel yang tebalnya 417 halaman ini. Apa yang menjadi pertanyaan mereka, siapa saja sebenarnya musuh mereka, masih belum banyak terjawab. Tapi mungkin itu memang cara Kelley Armstrong untuk menyimpan big bang di buku ke-3.

Di antara kejar-kejaran antara para remaja dengan Grup Edison, di antara ketegangan hubungan Derek-Chloe, Derek-Tori, Tori-Chloe, Tori-Simon, aku mulai nangkap sinyal-sinyal romance nih. Asiiiik. Kelley Armstrong munculinnya luwes banget, gak maksa “buruan jadian”. Jadi gak sabar pengen lihat kelanjutannya di The Reckoning. Walau kalo mau jujur, benernya aku sudah tau kelanjutan romance-nya. Hehehe :O) Tapi baca di edisi Indonesia-nya kan tetep nambah asik.

Nah, ngomong-ngomong soal edisi Indonesia, berarti bahasan musti nyampe ke terjemahan ya? Dibanding The Summoning, terjemahan The Awakening ini jauh lebih lancar, lebih pas, gak banyak kalimat aneh, gak banyak typo. Yang agak aneh cuma kalimat:
 “Lebih baik daripada bajumu. Ingin punya kain baru, Rachelle? Kau kan cuma punya dua.”-hal. 73
Mungkin akan lebih nyaman terbaca kalo “kain” itu diganti saja dengan “pakaian” jika ingin menggunakan istilah yang beda dari kata “baju” di kalimat sebelumnya.
Kalimat aslinya (sebelum diterjemahkan) sih begini:
“Which is more than we can say for your wardrobe. Like another wrap, Rachelle? You’ve only had two so far.”

Lalu, bagaimana rasanya membaca novel ini? Duh, ngebayangin remaja-remaja berumur pertengahan belasan tahun yang musti keluar dari kenyamanan rumah yang biasa menaungi mereka, hidup menggelandang di jalanan dan dikhianati orang-orangtua yang seharusnya menjadi tumpuan kepercayaan mereka, sungguh bikin trenyuh. Apalagi kesulitan yang mereka hadapi itu akibat eksperimen nekat ilmuwan yang kebanyakan masih berhubungan darah dengan mereka. Boro-boro mikirin sekolah yang terbengkalai, nyelametin nyawa saja terbaca tertatih-tatih :”(

Singkat kata, dari sisi ketegangan, kehebohan, pembangkit dan penerus rasa penasaran, novel ini aku beri jempol tiga. Tidak seheboh novel pertama (kecuali bagian zombie-zombie-annya) tapi justru makin bikin jengkel karena musti nunggu sekuel berikutnya Khusus terjemahannya ada empat jempol untuk skala lima.

the summoning


Oh. Wow.

Pilih mana, jadi orang yang sama sekali gak terkenal karena pemalu dan pendiam, atau jadi pusat perhatian karena memiliki banyak keistimewaan? Chloe pernah mengalami itu semua. Dan coba bayangkan jadi dia, karena ternyata dia tak menyukai semuanya.

 Chloe Saunders gadis yang baru saja menginjak 15 tahun dan bercita-cita menjadi sutradara film. Sejak kecil ia sudah ditinggal mati ibunya, dan diasuh deretan pembantu serta tantenya, Lauren Fellows. Ayahnya adalah pengusaha yang selalu bepergian ke luar negeri.

 Chloe yang pemalu, pendiam, dan cenderung gagap saat gugup musti menghadapi banyak kejutan di hari ulangtahunnya: menstruasi yang akhirnya muncul, anak kecil yang nyelonong ke depan taksi yang ia tumpangi (dan ternyata setelah ditingkahi teriakan histeris Chloe, ia tak bisa menemukan jejak atau pun mayat si anak kecil di kolong maupun atap taksi). Di sekolah ia juga sempat malu karena Brent yang ia taksir hanya cuek saja, dan puncaknya, ia diganggu sosok penjaga sekolah berseragam yang marah-marah dan meleleh di depannya.


Tumpukan stres membuat Chloe dikira mengamuk di sekolah. Akhirnya ia dikirim ke rumah sakit untuk menjalani perawatan. Diagnosis para dokter merujuk Rumah Lyle untuk perawatan intensif selanjutnya.
Ditinggal di Rumah Lyle bersama beberapa remaja lain yang sama-sama dianggap bermasalah membuat Chloe mulai mempertanyakan kewarasannya. Apalagi ia kemudian kembali mengalami penglihatan-penglihatan seram-yang orang lain tidak.

Skizofrenia, itulah diagnosisnya.

Rumah Lyle menampung remaja-remaja yang dianggap memiliki masalah mental. Ada Liz yang cantik, ramah, dan bisa menerbangkan benda-benda saat ia marah, Derek yang bongsor, jerawatan parah, jenius, galak/antisosial, serta memiliki tenaga yang luat biasa, lalu ada Simon-saudara angkat Derek-si blasteran Korea yang ganteng dan bisa membuat kabut dan menggerakkan benda-benda hanya dengan menjentikkan jari, Rae si pemuja api, dan Tori yang pendengki, jahat, dan memiliki gangguan kestabilan emosi. Chloe langsung kewalahan menghadapi sikap bermusuhan Tori dan kegalakan Derek.

Singkat cerita, Rumah Lyle ternyata menyimpan rahasia kelam. Keamanan anak-anak itu terancam, apalagi sebelumnya Liz sudah dibawa pergi karena tak bisa mengontrol kekuatannya-dan Chloe yakin, Liz akhirnya dibunuh.

Derek, Simon, Chloe, dan Rae akhirnya merencanakan pelarian dengan tujuan awal mencari ayah Derek dan Simon. Pelarian itu berubah menjadi kejar-kejaran di tengah malam karena mereka ketahuan.
Kisah fantastis. Di tengah guyuran deras novel-novel young-adult bernuansa fantasy, The Summoning karya Kelley Armstrong ini masih mampu menembus pasar dan menciptakan pembeda di antara pesaingnya. The Summoning akhirnya tidak hanya sibuk mengeksplorasi genre fantasi (yang biasanya penuh dengan makhluk-makhluk gaib). Novel ini malah menyuguhkan kejutan-kejutan khas drama thriller psikologis. Lorong-lorong sempit, bisik-bisik, kejar-kejaran, sifat penuh rahasia dan pengkhianatan, sebut saja … semua tanpa ampun disajikan di sini oleh Kelley Armstrong. Membuat aku semakin deg-degan dan berkeringat dingin, tapi juga gak mau ngelepasin meski harus masuk kamar mandi.

Untuk mendapatkan kisah yang tegang dan seru, selain plot dan jalan cerita, sang pengarang juga harus memberi perhatian penuh kepada karakter masing-masing tokoh. Nah, The Summoning memiliki kelebihan di semua lini tersebut. Ide ceritanya sangat kuat dan cukup orisinal. Padahal dengan banyaknya novel bergenre fantasi yang sudah beredar di pasaran, sebenarnya wajar banget kalo dia agak-agak terpengaruh novel lain yang sudah duluan muncul. Tapi Kelley berhasil lolos dari jebakan itu.

The Summoning memadukan kisah fantasi dengan ketegangan film drama psikologis, dan diberi bumbu action yang mendebarkan. Jalan ceritanya juga tidak melulu mengisahkan pelarian remaja-remaja tersebut. Kelley bahkan menambahkan misteri mengapa ada orang dewasa yang mau berepot-repot mengumpulkan supernatural-supernatural muda bermasalah dalam satu atap. Mengingatkanku pada sekolah berasrama yang didirikan Profesor Charles Xavier di The X-Men. Tapi kalo Profesor Charles Xavier mengumpulkan remaja-remaja itu untuk mengajari mereka mengontrol kekuatan dan memberi mereka pemahaman mengenai penggunaan kekuatan untuk kebaikan. Sedang di Rumah Lyle remaja-remaja tersebut diberitahu kalo apa yang mereka kira mereka lihat atau mereka pikir atau lakukan itu salah, lalu diberi label penyakit kejiwaan yang seram, dan kemudian disuruh untuk “sembuh”.

Karakter-karakter tokoh dimunculkan secara gemilang. Aku terkejut-kejut dengan perubahan sikap yang ditunjukkan para karakter di sepanjang jalan cerita, secara seperti biasa, saat kita membaca sebuah kisah, biasanya kan kita memang sudah mengira-ngira sebenarnya kisah ini bagaimana, siapa yang jahat, dan lain-lain. Nah, kalo kamu belum pernah baca The Summoning, percaya deh, pasti bakal sering jengkel mendapati tebakan-tebakanmu salah :D

Ada Chloe yang gagap, si jahat Tori, si jahat Derek, si ramah Simon, Dr. Gill, dll. Semua tokoh dibiarkan mengeksplorasi sifat-sifat yang sejak awal muncul sudah kita baca deskripsinya. Dan lihat lah ke mana jalan cerita membawa masing-masing karakter dalam plot.

Nah, sekarang aku sampai pada bumbu yang harus ada dalam genre YA. Cinta dan kelincahan. Dialog di The Summoning mengalir lancar. Aku banyak tersenyum membaca bagaimana remaja-remaja itu saling berinteraksi. Apalagi begitu sampai pada interaksi dengan lawan jenis. Banyak adegan dan dialog imut bertebaran. Tapi jangan ngarep deh untuk menemukan kisah cinta apalagi sampai adegan ciuman. Gak ada banget. Kita sudah terlalu disibukkan dengan petualangan mereka. Tapi jangan kuatir, kayaknya masih bisa berharap untuk menemukan cinta-cintaan atau monyet-monyetan di sekuel-sekuel The Summoning: The Awakening dan The Reckoning kalo ngeliat perkembangan hubungan tokoh-tokoh utama.

Penerjemahan juga lancar. Gak banyak typo, gak membingungkan. Hanya, seperti biasa, Ufuk terlalu bersemangat dalam penerjemahan, hingga kadang ada istilah yang seharusnya gak perlu kena babat terjemahan, ini juga tetep diindonesiakan. Contoh? “cincin basket”. Kayaknya kita lebih familier dengan istilah “ring basket” saja kali, ya. Tapi gak banyak kok. Dan gak ngganggu jalan cerita.

Nah, sekarang kekecewaanku baca novel ini deh. Aku tuh paling sebal kalo baca novel yang:
  1. Gak happy ending (hahaha, pecinta budaya kitsch banget ya:D)
  2. Jalan cerita yang nggantung di klimaks, menyisakan rasa penasaran.
Nah, gak cukup salah satunya, The Summoning mengecewakanku dengan memberiku dua kriteria tersebut di atas! Jadi do me a favor, please … bikin semaput aku saja, dan tolong jangan bangunkan aku sampai The Awakening terbit di pasaran! :”(