Eh, ternyata di antara saat terakhir kali kita nutup CRESCENDO dan buka sampul depan SILENCE, si Nora diculik lho. Gak tanggung-tanggung durasi nyuliknya, tiga bulanan. Ngapain saja ya dia selama itu? Ada di mana? Siapa yang nyulik? Apa sempat ganti baju? (huek huek huek! kalo gak sempat).
Sayangnya, saat ia dilempar dan dilepasin ke tengah kuburan, Nora mengalami amnesia (duh, di sini kok jadi inget sinetron-sinetron) sehingga gak bisa ingat apa yang terjadi selama lima bulan terakhir dari hidupnya. Nora menjalani kembali hidupnya, meskipun sifat ngeyelannya membuatnya berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Betapa berang saat ia tahu, sepanjang kepergiannya, ibunya malah pacaran dengan Hank Millar, bokap musuh bebuyutannya, Marcie. Nora juga heran melihat Vee Sky, sobatnya yang biasa jelalatan kalo ngeliat cowok cakep, bisa memproklamirkan diri sedang menjalani detoks cowok. Ia juga ngerasa aneh saat tahu Marcie yang agak-agak ramah padanya. Tapi yang paling membingungkan dan membuatnya penasaran adalah sosok Jev. Cowok satu ini menyebalkan dan jelas bad influence kalo ngeliat teman-teman gaulnya. Tapi kenapa Nora justru ngerasa Jev adalah bagian penting hidupnya yang ikut hilang dalam amnesianya?
Seiring isi novel setebal 585 halaman ini, satu persatu misteri terkuak. Akhirnya Nora bisa menyatukan potongan-potongan puzzle-nya, dan menghadapi manipulasi-manipulasi fakta yang selama ini dilakukan secara penuh perhitungan, cold blooded, dan kejam oleh ayah kandungnya. Rasa ingin tahu Nora ternyata kembali menyeretnya ke dalam kesulitan. Kali ini selain harus memikirkan banyak nyawa untuk diselamatkan, ia juga (terpaksa) harus memimpin satu perang di antara dua ras makhluk supranatural.
keringat dingin benar-benar membasahi telapak tanganku saat membuka setiap halaman novel satu ini. Bahkan sampai lembar terakhir. Meskipun ada beberapa hal yang sudah bisa aku tebak, tapi tetap saja, seram dan tegang. Becca Fitzpatrick sangat mampu menghadirkan suspense dari awal sampai akhir cerita. Dari sisi cerita, ganjalanku cuma satu: si bad guy terlalu gampang mati. Aku jadi setengah berharap dia bakal muncul lagi entah dengan cara gimana di buku berikutnya.
Nah, saking hebohnya ini cerita, jelas dong kita sebagai pembaca jadi ikut larut dan kebawa naik-turunnya emosi. Ada satu hal yang pasti karena hal ini, aku jadi sebal sama Nora. Mau tauuuuu aja. Selalu nyari masalah. Tapi giliran kena masalah, selaluuu saja cuma bisa lolos karena diselamatkan Patch, atau Jev, atau Scott. Kalo memang mau coba-coba nyelidik, sikap impulsifnya dikurangin dikit, napa?
Tapi baca novel ini enak karena ceritanya memang asik. Penerjemahannya juga enak, gak nemu satu typo-pun. Ada ding satu, di halaman 369. Cek baris ke-9. Bukankah harusnya ‘Rasanya itu tidak bisa kita mungkiri’ instead of ‘pungkiri’? Tapi itu saja kok yang aku temukan
Oke, sekarang sampai ke cover. Hadoooh, di antara HUSH, HUSH, CRESCENDO, dan SILENCE ini, menurutku cover SILENCE yang paling enggak banget. Pose Drew Doyon yang sedang nggendong cewek entah siapa itu (kenapa bukan aku sih???) gak enak diliat. Tampak nanggung
Oke, overall, novel ini masih sangat enak dibaca. Sekuel berikutnya, yang kabarnya berjudul FINALE jelas layak ditunggu.
No comments:
Post a Comment